Jaringannasional.com — Sukabumi.
Di saat birokrasi sering berjalan lambat dan warga kecil kebingungan menembus tembok administrasi, sekelompok relawan memilih bergerak tanpa banyak bicara. Mereka tidak menunggu rapat panjang, tidak sibuk dengan seremoni.
Mereka datang ketika orang sakit tak lagi mampu berdiri. Adalah Group Relawan Sehati Sejahtera Kabupaten Sukabumi, digagas dan dipimpin Rafael Khoiri Ramadhian—akrab disapa Bang Paul. Sehari-hari ia mitra polri Pokdar Kamtibmas bhayangkara dan anggota Unit Gatur TBO Polres Sukabumi.
Namun di luar tugasnya mengurai kemacetan jalan, ia justru lebih sering mengurai kemacetan nasib warga kecil yang tersendat akses kesehatannya.
Kisah Ibu Titim menjadi tamparan keras bagi siapa pun yang masih menganggap persoalan kesehatan warga miskin sekadar angka statistik. Janda lanjut usia asal Cikembar itu hidup seorang diri di rumah reyot di atas tanah desa.
Sakit serius membuatnya tak mampu berbicara dan kesulitan membuka mulut. Ia menahan derita dalam sunyi.Ironisnya, di tengah kondisi kritis itu, ia tak memiliki BPJS. Data kependudukannya bermasalah—KTP dan KK tidak sinkron.
Bagi sebagian orang, ini hanya soal berkas. Bagi Ibu Titim, ini soal hidup atau terlambat ditangani.Di sinilah Relawan Sehati Sejahtera menunjukkan makna kepedulian yang sesungguhnya.
Bang Paul dan tim tak sekadar datang melihat kondisi, lalu pulang membawa simpati. Mereka langsung bergerak. Pendampingan medis dilakukan, administrasi dibenahi, dan proses pengurusan jaminan kesehatan dikawal hingga tuntas.
Amoy Team turut memastikan BPJS Ibu Titim terbit sesuai identitas resminya.Hasilnya bukan janji. Ibu Titim kini menjalani perawatan di RSUD Sekarwangi. Ia tak lagi sendirian menghadapi sakitnya.Namun Ibu Titim bukan satu-satunya.
Hingga kini, 17 pasien dari berbagai kecamatan di Kabupaten Sukabumi telah berhasil dibantu dan dirawat melalui pendampingan relawan. Angka itu mungkin kecil di atas kertas, tetapi besar bagi keluarga yang nyaris kehilangan harapan.
Kehadiran relawan ini sekaligus menjadi cermin: masih banyak warga kurang mampu yang tersisih oleh keruwetan administrasi dan keterbatasan informasi. Program ada, fasilitas ada, tetapi akses tak selalu mudah dijangkau mereka yang paling membutuhkan.
Relawan Sehati Sejahtera membuktikan bahwa empati harus diikuti tindakan. Mereka tidak menggantikan negara, tetapi mengisi ruang kosong yang belum terjangkau.
Mereka tidak mencari sorotan, tetapi memilih berdiri di sisi warga yang nyaris tak terlihat.Gerakan ini adalah pengingat keras bahwa kemanusiaan tak boleh menunggu prosedur selesai.
Ketika ada yang sakit, yang dibutuhkan bukan hanya regulasi—melainkan keberanian untuk turun tangan.Di Sukabumi, harapan itu masih hidup. Dan ia bergerak, dari rumah ke rumah.
Dede












