Jaringannasional.com – Bandung.
Tugas kekhalifahan di muka bumi sebagaimana disebut dalam QS. Al-Baqarah:30 “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”
menuntut setiap mukmin memakmurkan bumi melalui amal saleh dan _tabligh_, yakni menyampaikan kebenaran. Untuk menunaikan tugas ini, Allah menciptakan manusia dengan ragam kepribadian, di antaranya introvert dan ekstrovert. Keduanya memiliki keunggulan tersendiri yang saling melengkapi.
1. Keunggulan Kepribadian Introvert untuk Tabligh dan Kekhalifahan*Introvert memperoleh energi dari kesendirian, reflektif, dan mendalam.
Kekuatannya ialah:1. Kedalaman Ilmu dan Tafakur Introvert cenderung kuat dalam membaca, meneliti, dan merenung. Ini modal untuk menghasilkan pemikiran yang matang. Tugas khalifah memerlukan ilmu. _Tabligh_ yang bersumber dari ilmu yang mendalam akan lebih kokoh.
Bentuk tabligh: Menulis buku, artikel, tafsir, membuat kurikulum, merancang sistem, menciptakan teknologi bermanfaat. Imam Syafi‘i, Imam Nawawi, dan Imam Al-Ghazali dikenal pendiam tetapi karyanya memakmurkan peradaban Islam hingga hari ini.
2. Kekuatan Tarbiyah Individual Introvert unggul dalam membina satu atau dua orang secara intensif.
Ia sabar mendengar dan memberi nasihat yang tajam. Ini sesuai metode Rasulullah ﷺ pada fase Makkah yang membina sahabat secara personal di rumah Al-Arqam.
Bentuk tabligh: Mentoring, konseling syar‘i, menjadi murabbi, membina keluarga inti yang saleh.
3. Ketajaman Batin dan Doa Karena banyak berkhalwat, introvert mudah menghadirkan hati dalam doa.
Padahal doa ialah senjata mukmin dan bagian dari amar makruf. Ia memakmurkan bumi lewat munajat di sepertiga malam untuk umat.
tabligh : Tabligh bil haldan tabligh bil qalb menjadi mustajabud da‘wah yang doanya menembus langit untuk kebaikan umat.
4. Konsistensi dan Fokus Tidak mudah terdistraksi keramaian membuat introvert tekun menyelesaikan proyek jangka panjang. Memakmurkan bumi butuh pembangunan yang konsisten, seperti wakaf, riset, atau lembaga pendidikan.
2. Keunggulan Kepribadian Ekstrovert untuk Tabligh dan Kekhalifahan Ekstrovert memperoleh energi dari interaksi, ekspresif, dan cepat bertindak. Kekuatannya ialah:
1. Kekuatan Komunikasi Massa Ekstrovert mudah berbicara di depan publik, memimpin, dan menggerakkan massa. Ini modal utama untuk tabligh bil lisan secara luas.
Bentuk tabligh: Ceramah, orasi, memimpin majelis taklim, menjadi juru damai, mengorganisasi aksi sosial. Sahabat Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid adalah teladan khalifah yang ekspresif dan menggerakkan.
2. yangJejaring dan Kolaborasi Ekstrovert cepat membangun relasi. Tugas memakmurkan bumi tidak bisa sendiri. Ia mampu menyatukan potensi umat, membangun tim, dan menjembatani berbagai pihak.
Bentuk tabligh: Mendirikan komunitas, memimpin lembaga zakat, menginisiasi gerakan sosial, menjadi negosiator untuk kemaslahatan.
3. Keberanian Mengubah dengan Tangan Dalam hadis amar makruf nahi mungkar HR. Muslim No. 49, mengubah dengan tangan memerlukan keberanian tampil. Ekstrovert umumnya lebih siap turun ke lapangan, menegakkan keadilan, dan mengeksekusi program.
Bentuk tabligh: Memimpin lembaga, menjadi pejabat yang adil, terjun dalam penanggulangan bencana, menegakkan hukum.
4. Energi untuk Menghidupkan Suasana Ekstrovert menghidupkan majelis, memotivasi yang lemah, dan menyebarkan optimisme. Ini penting agar proyek kekhalifahan tidak berhenti di tengah jalan.
3. Hubungan dengan QS. Al-Baqarah:30 – Tugas Kekhalifahan*Ayat ini menegaskan bahwa setiap manusia adalah khalifah, bukan hanya nabi atau raja. Makna khalifah meliputi: 1. ‘Imaratul Ardh: Memakmurkan bumi secara fisik dengan ilmu, pertanian, teknologi, ekonomi syariah.
2. ‘Ubudiyyah: Memakmurkan bumi secara ruhani dengan menegakkan ibadah dan nilai. Introvert memakmurkan bumi lewat kedalaman ilmu, sistem, dan pembinaan ruhani.
Ekstrovert memakmurkan bumi lewat gerakan, kepemimpinan, dan syiar. Keduanya wajib bersinergi. Jika hanya ada introvert, gagasan baik tidak tersebar.
Jika hanya ada ekstrovert, gerakan menjadi kosong tanpa ilmu Wali Allah yang sejati tidak meninggalkan tugas ini*. Ia tidak terus-menerus khalwat Setelah hatinya penuh, ia menuangkannya untuk umat, baik lewat tulisan seperti Imam Ghazali yang introvert, maupun lewat kepemimpinan seperti Sultan Salahuddin yang ekstrovert.
4. Hubungan dengan Hikmah Ibnu ‘Athaillah Syaikh Ibnu ‘Athaillah berkata: “Idfin wujūdaka fī arḍil khumūl, famā nabata mimmā lam yudfan lā yatimmu nitājuh”
“Benamkan dirimu di bumi ketersembunyian. Sebab sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam tidak sempurna buahnya.”
Al-Hikam Maknanya bagi introvert dan ekstrovert:1. Bagi Introvert: Kalimat ini bukan pembenaran untuk selamanya sembunyi.
Ardhil khumūl atau “bumi ketersembunyian” ialah fase khalwat_ untuk menanam benih ilmu, ikhlas, dan kekuatan ruhani. Setelah benih itu kuat, ia harus tumbuh ke atas, berbuah, dan memberi manfaat. Introvert yang hanya menimbun ilmu tanpa _tabligh_ seperti benih yang busuk di tanah. Buahnya tidak sempurna.
2. Bagi Ekstrovert: Kalimat ini peringatan agar tidak “tumbuh tanpa ditanam”. Ekstrovert yang banyak bicara dan tampil tanpa pernah khalwat, tanpa ilmu, tanpa muhasabah, akan menghasilkan “buah tidak sempurna”. Gerakannya ramai tetapi kosong, mudah patah, dan tidak memberkahi. Ia harus mau “ditanam” dulu melalui belajar, menyendiri, dan meluruskan niat.
Jadi, pola ideal untuk keduanya*: _Tanam → Tumbuh → Berbuah_. _Khalwat → Ilmu dan Tazkiyah → Tabligh dan Khidmah_. Inilah jalan kekhalifahan. Introvert unggul di fase “menanam”, ekstrovert unggul di fase “berbuah”. Pribadi unggul menguasai keduanya.
5. Simpulan: Menjadi Pribadi Unggul
1. Kenali diri: Apakah Anda cenderung introvert atau ekstrovert. Syukuri sebagai modal dari Allah.
2. Lengkapi kekurangan: Introvert belajar public speaking_ dan kolaborasi. Ekstrovert belajar tafakur, membaca, dan menahan diri.
3. Tentukan medan tabligh: Pilih cara dakwah yang sesuai fitrah, tetapi jangan menolak peran lain saat umat membutuhkan.
4. Niatkan untuk kekhalifahan: Setiap tulisan, setiap ceramah, setiap proyek, niatkan untuk memakmurkan bumi sebagai ibadah. 5. Ikuti siklus Ibnu ‘Athaillah:
Selalu ada masa “ditanam” dengan ilmu dan uzlah, lalu masa “berbuah” dengan amal dan _tabligh_._“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.”_ HR. Muslim No. 2664.
Kuat di sini ialah kuat dalam menjalankan tugas kekhalifahan sesuai karakter yang Allah berikan.Segala sesuatu yang Allah SWT berikan pada manusia ada manfaatnya termasuk kepribadian introvert dan ekstrovert.
Tinggal kita sebagai manusia yang bisa mengolah kepribadian kita untuk kita jadikan dan sesuaikan dengan keinginan Allah SWT, dengan selalu berusaha dan berdoa untuk mendapatkan ridho Allah SWT.
Dr. Rd. Dewi Rahma Sari, S.S., S.Pd., M.A.Merupakan seorang Ibu dan Guru juga Dosen bidang Ilmu Pendidikan Islam, Bahasa Inggris dan Manajemen.
Dengan Yayasan Dewi Rahma Sari Education and Care yang didedikasikan untuk wakaf ilmunya
YB




