BEKASI —jaringannasional.comPersoalan tata kelola air dan kebutuhan infrastruktur permukiman menjadi perhatian dalam kegiatan Kerja Bakti Aspirasi Lingkungan yang digelar Ranting PDI Perjuangan Kelurahan Perwira bersama PAC PDI Perjuangan Bekasi Utara di RW 009, Kelurahan Perwira, Kecamatan Bekasi Utara, Minggu (11/10/2026).
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang kebersamaan di lingkungan warga, tetapi juga dimanfaatkan untuk membahas kebutuhan pembangunan wilayah. Dua usulan yang mengemuka ialah pembangunan sodetan menggunakan saluran beton berbentuk U-Ditch dan pembangunan polder di kawasan Vila Mas Garden.
Ketua Ranting PDI Perjuangan Kelurahan Perwira, Deny Angga Gusantri, S.T., mengatakan pembangunan polder di kawasan tersebut diupayakan dapat direalisasikan pada tahun ini. Meski demikian, ia menegaskan bahwa realisasinya masih bergantung pada proses serta dukungan pihak terkait.
“Insya Allah polder diusahakan tahun ini untuk bisa direalisasikan. Tapi, itu tergantung dari dewannya juga yang akan merealisasikan,” ujar Deny.
Pembahasan aspirasi tersebut turut dihadiri Ahmad Faizin, S.E., M.M., Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Bekasi yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat. Kehadirannya menjadi bagian dari komunikasi antara pengurus partai di tingkat wilayah dan unsur legislatif mengenai kebutuhan pembangunan di lingkungan masyarakat.
Usulan sodetan U-Ditch dan pembangunan polder menjadi dua agenda yang berkaitan dengan penataan sistem pengelolaan air di kawasan permukiman. Sodetan diharapkan dapat mendukung kelancaran aliran air, sedangkan polder menjadi salah satu infrastruktur yang dapat menunjang pengendalian air sesuai kebutuhan dan kondisi teknis wilayah.
Meski masuk dalam pembahasan, kedua usulan tersebut masih memerlukan tindak lanjut melalui koordinasi dengan instansi berwenang, termasuk pembahasan teknis, dukungan anggaran, dan mekanisme pelaksanaan sesuai ketentuan yang berlaku.
Melalui kegiatan Kerja Bakti Aspirasi Lingkungan, kebutuhan warga RW 009 diharapkan tidak berhenti sebagai catatan pertemuan, tetapi dapat ditindaklanjuti dalam proses perencanaan pembangunan. Sebab, bagi warga, infrastruktur yang dibutuhkan bukan sekadar rencana di atas kertas, melainkan fasilitas lingkungan yang manfaatnya dapat dirasakan secara nyata.













