Bukan Sekadar Mendata, PSM Pondok Gede Kawal Warga Rentan hingga Kursi Roda Diterima.

Jaringannasional.com – Kota Bekasi.

Kerja sosial tidak cukup hanya mencatat nama warga yang membutuhkan bantuan. Dibutuhkan kepedulian, keberanian turun ke lapangan, asesmen yang tepat, koordinasi lintas sektor, serta pengawalan hingga bantuan benar-benar sampai kepada penerima manfaat.

Hal tersebut tercermin dari kinerja Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, yang terus bergerak mendampingi warga rentan di wilayahnya.

Atas kerja tersebut, apresiasi dan ucapan terima kasih disampaikan kepada Kasi Kesos Jatiwaringin Imas Sunarya, S.Sos., Kasi Kesos Kecamatan Pondok Gede Indah Indri Hapsari, SH., M.Si., serta Ketua PSM Kecamatan Pondok Gede Supiani, yang dinilai turut memberikan dukungan dan memperkuat koordinasi dalam pelayanan sosial masyarakat.

Dari Informasi Warga Menjadi Tindakan NyataPersoalan warga rentan sering kali berada di depan mata, tetapi tidak selalu terlihat oleh banyak orang.

Lansia dengan keterbatasan mobilitas, warga dengan kondisi ekonomi lemah, maupun masyarakat yang membutuhkan alat bantu terkadang hanya bisa berharap ada pihak yang peduli dan menghubungkan mereka dengan layanan yang tersedia.

Di sinilah peran PSM menjadi penting.PSM Pondok Gede tidak berhenti pada menerima informasi. Ketika menemukan warga yang membutuhkan perhatian, dilakukan asesmen untuk melihat kondisi dan kebutuhan mereka.

Hasil asesmen kemudian menjadi dasar untuk melakukan koordinasi dengan unsur kewilayahan dan layanan terkait.Kerja seperti inilah yang membuat pelayanan sosial memiliki makna lebih besar.

Warga tidak hanya didata, tetapi diperjuangkan agar mendapatkan akses terhadap bantuan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Empat Warga Mendapatkan Kursi RodaSalah satu hasil pendampingan tersebut terlihat pada 17 September 2026, ketika empat warga rentan dari wilayah Kecamatan Pondok Gede mendapatkan bantuan kursi roda melalui STPL Pangudi Luhur Bulak Kapal, Kemensos RI, Kota Bekasi.

Mereka adalah Ibu Pesah, warga RW 12 Jatiwaringin; Bapak Rokib, warga RW 15 Jatiwaringin; Bapak Joko, warga RW 13 Jatimakmur; serta Muhammad Lutfi, 24 tahun, warga RW 02 Jatibening Baru.Bagi penerima manfaat, kursi roda bukan sekadar barang bantuan.

Alat tersebut menjadi bagian penting dalam membantu mobilitas dan aktivitas sehari-hari.Karena itu, proses hingga bantuan tersebut diterima tidak semestinya dilihat sebagai kegiatan administratif semata.

Ada proses pendataan, asesmen, komunikasi, koordinasi, dan pendampingan yang harus dilakukan agar kebutuhan warga dapat terhubung dengan program pelayanan sosial.Apresiasi untuk Imas Sunarya, Indah Indri Hapsari dan Supiani.

Dalam proses tersebut, dukungan unsur Kesos dan kepemimpinan PSM menjadi bagian yang tidak terpisahkan.Kasi Kesos Jatiwaringin Imas Sunarya, S.Sos. diapresiasi atas perhatian dan koordinasinya dalam menindaklanjuti persoalan sosial yang muncul di lingkungan masyarakat.Begitu pula Kasi Kesos Kecamatan Pondok Gede Indah Indri Hapsari, SH., M.Si., yang memiliki peran dalam penguatan koordinasi pelayanan sosial di tingkat kecamatan.

Sementara Ketua PSM Kecamatan Pondok Gede Supiani bersama jajaran PSM terus didorong untuk mempertahankan pola kerja yang dekat dengan masyarakat—mendengar laporan, melihat kondisi secara langsung, melakukan asesmen, kemudian mengupayakan tindak lanjut.

“Terima kasih kepada Ibu Imas Sunarya, S.Sos., Ibu Indah Indri Hapsari, SH., M.Si., dan Ibu Supiani atas dukungan dan sinerginya terhadap kinerja PSM Pondok Gede.

Apa yang dilakukan PSM menunjukkan bahwa pelayanan sosial harus hadir sampai ke tingkat masyarakat, bukan hanya berhenti di meja administrasi.

”Kerja Sosial Harus Terlihat HasilnyaKeberadaan PSM akan semakin berarti ketika masyarakat merasakan manfaatnya secara langsung.

Sebab, ukuran kerja sosial bukan hanya berapa banyak laporan yang masuk atau berapa banyak data yang dikumpulkan. Yang jauh lebih penting adalah sejauh mana warga yang berada dalam kondisi rentan mendapatkan pendampingan dan akses terhadap pelayanan yang mereka perlukan.

Dari persoalan seorang lansia yang kesulitan berjalan, warga yang membutuhkan alat bantu, hingga keluarga dengan keterbatasan ekonomi, semuanya membutuhkan perhatian yang konkret.

PSM menjadi salah satu mata rantai yang menghubungkan kondisi nyata di lapangan dengan sistem pelayanan sosial pemerintah.

Karena itu, sinergitas antara PSM, Kesos kelurahan, Kesos kecamatan, lingkungan masyarakat, fasilitas pelayanan kesehatan, serta Kemensos perlu terus diperkuat.Jangan sampai warga yang paling membutuhkan justru menjadi warga yang paling tidak terlihat.

Kinerja PSM Pondok Gede menunjukkan bahwa ketika kepedulian dibarengi dengan koordinasi dan pengawalan, informasi sederhana dari masyarakat dapat berubah menjadi tindakan nyata.

Bukan sekadar mendata. Bukan sekadar melaporkan. Tetapi hadir, mengawal, dan memastikan warga rentan mendapatkan perhatian. Itulah esensi pelayanan sosial: bekerja di tengah masyarakat, mendengar suara yang sering tidak terdengar, dan membuka jalan agar hak pelayanan sosial dapat diakses oleh mereka yang membutuhkan.

YB