AI Boleh Pintar, Pelajar Jangan Kalah Kritis: Polsek Pondok Gede Bicara Soal Dunia Digital

BEKASI —jaringannasional.com–Di tengah laju teknologi yang kian cepat, ruang digital bagi pelajar bukan lagi sekadar tempat mencari informasi.

Media sosial, kecerdasan buatan (AI), hingga berbagai platform digital kini menjadi bagian dari keseharian yang juga membawa risiko jika digunakan tanpa literasi dan kendali.

Pesan itu disampaikan Polsek Pondok Gede bersama Tim Polres Metro Bekasi Kota saat menggelar program Jaga Pelajar sebagai bagian dari Jaga Jakarta On The Spot di SMKS Hutama, Jalan Raya Hankam Nomor 37, Kelurahan Jatirahayu, Kota Bekasi, Jumat (25/9/2026).

Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman siswa mengenai keamanan siber, etika bermedia sosial, perlindungan data pribadi, sekaligus pemanfaatan kecerdasan buatan secara bijak dan produktif.

Kegiatan dipimpin Wakapolsek Pondok Gede AKP Dwi Budi Santoso, S.H., bersama Kasubbag Binkar Polres Metro Bekasi Kota AKP I Dewa Ayu Ketut J., S.H. Sejumlah personel Unit Binmas, Bhabinkamtibmas, Unit Lantas, serta Tim Operator AI Polres Metro Bekasi Kota turut terlibat.

Wakapolsek Pondok Gede AKP Dwi Budi Santoso mengatakan, perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai etika dan konsekuensi hukum.

“Teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan media sosial bagaikan pisau bermata dua. Jika digunakan dengan salah, dampaknya bisa berujung pada pelanggaran hukum,” ujar Dwi Budi Santoso di sela-sela kegiatan.
Menurut dia, kehadiran kepolisian di lingkungan sekolah tidak hanya berkaitan dengan aspek keamanan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan digital di kalangan generasi muda.

“Kehadiran kami di sini adalah untuk memastikan para siswa memiliki benteng pertahanan digital yang kuat, tahu batasan hukum, serta mampu mengarahkan potensi teknologi tersebut untuk hal-hal yang produktif dan mendukung masa depan mereka,” katanya.

Dari Cyberbullying hingga Hoaks
Dalam sesi edukasi, para pelajar mendapatkan pemahaman mengenai sejumlah persoalan yang kerap muncul di ruang digital, mulai dari cyberbullying, penggunaan media sosial secara bijak, perlindungan data pribadi, penyebaran hoaks, hingga batasan hukum dalam aktivitas digital berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan, termasuk Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Pesan yang dibangun sederhana: ruang digital bukan ruang tanpa aturan.
Apa yang ditulis, dibagikan, direkam, maupun disebarluaskan dapat memiliki konsekuensi, terutama ketika menyangkut data pribadi, penghinaan, perundungan, informasi palsu, atau konten yang melanggar ketentuan hukum.

AI Bukan Jalan Pintas
Tidak berhenti pada aspek keamanan, Tim Operator AI Polres Metro Bekasi Kota juga mengenalkan pemanfaatan kecerdasan buatan untuk kepentingan positif.

Pelajar diberikan pemahaman mengenai penggunaan AI untuk mendukung proses pembelajaran dan kreativitas, sekaligus pentingnya etika dalam menggunakannya.
Salah satu perhatian yang ditekankan adalah plagiarisme.

Kemudahan AI dalam menghasilkan teks, gambar, maupun berbagai bentuk konten tidak semestinya membuat pelajar menjadikan teknologi sebagai jalan pintas untuk menggantikan proses belajar.

Pelajar juga diperkenalkan pada potensi manipulasi digital, termasuk deepfake, sehingga tidak mudah mempercayai atau menyebarkan konten hanya karena tampilannya terlihat meyakinkan.
Dengan demikian, kemampuan menggunakan AI perlu berjalan beriringan dengan kemampuan memeriksa informasi.

Polisi Masuk Sekolah, Bangun Komunikasi
Program Jaga Pelajar menjadi salah satu ruang bagi kepolisian untuk membangun komunikasi langsung dengan generasi muda sekaligus mencegah potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat yang dapat muncul dari penyalahgunaan teknologi.

Pendekatan tersebut menempatkan sekolah bukan hanya sebagai lokasi kegiatan, tetapi sebagai ruang edukasi untuk membangun kesadaran bersama mengenai keamanan, etika, dan tanggung jawab di dunia digital.
Polsek Pondok Gede menegaskan, Jaga Pelajar bukan semata-mata agenda kepolisian hadir di sekolah.

Program itu diarahkan menjadi ruang dialog agar pelajar memiliki bekal menghadapi perkembangan teknologi yang bergerak cepat.
Sebab, di era ketika AI dapat membantu membuat hampir segala sesuatu dalam hitungan detik, kemampuan yang tak kalah penting bagi pelajar justru tetap klasik: berpikir sebelum mengeklik, memeriksa sebelum membagikan, dan memahami konsekuensi sebelum bertindak.