BEKASI | jaringannasional.com — Pemerintah Kabupaten Bekasi mematangkan rencana pembangunan embung seluas 1,2 hektare di Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, sebagai salah satu langkah strategis menghadapi ancaman kekeringan yang kerap melanda kawasan pertanian di wilayah selatan Kabupaten Bekasi.
Embung tersebut diproyeksikan menjadi sumber cadangan air untuk mendukung kebutuhan pengairan sekitar 1.500 hektare lahan sawah di wilayah Cibarusah dan sekitarnya. Selain menjaga ketersediaan air saat musim kemarau, infrastruktur ini juga dirancang memiliki fungsi pengendalian limpasan air ketika curah hujan tinggi.
Rencana pembangunan embung tersebut di sampaikan pemerintah kab Bekasi dalam rapat koordinasi yang dilakukan secara virtual oleh Kementerian Pertanian, jajaran TNI, di Command Center Diskominfosantik Kabupaten Bekasi, Jumat (25/9/2026).
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja mengatakan, koordinasi lintas sektor diperlukan agar pembangunan embung benar-benar sesuai dengan kondisi geografis, topografi, serta kebutuhan pengairan masyarakat di lapangan.
“Embung ini akan dibangun di atas lahan warga seluas 1,2 hektare. Penentuan titik lokasi telah memperhitungkan kebutuhan pengairan dan kondisi geografis wilayah Cibarusah,” ujar Asep seusai rapat.
Dukung Pengairan 1.500 Hektare Sawah
Cibarusah merupakan salah satu wilayah yang memiliki kawasan pertanian di daerah dengan kontur relatif tinggi. Kondisi tersebut membuat sejumlah lahan pertanian menghadapi tantangan ketersediaan air ketika memasuki musim kemarau.
Keberadaan embung diharapkan dapat menjadi sumber tampungan air yang dapat dimanfaatkan secara lebih terencana untuk memenuhi kebutuhan irigasi petani.
Secara teknis, air yang ditampung akan didistribusikan melalui jaringan irigasi sekunder dan tersier menuju petak-petak sawah. Dengan pola distribusi tersebut, ketersediaan air diharapkan lebih terjaga, terutama ketika pasokan air dari sumber lain mengalami penurunan.
Pemkab Bekasi juga menargetkan keberadaan embung dapat mendukung peningkatan indeks pertanaman (IP). Artinya, petani diharapkan memiliki peluang untuk meningkatkan frekuensi masa tanam dan panen dalam satu tahun karena dukungan air yang lebih memadai.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Tak Hanya untuk Musim Kemarau
Fungsi embung yang direncanakan di Ridogalih tidak hanya ditujukan untuk mengatasi kekeringan. Infrastruktur tersebut juga diproyeksikan berfungsi sebagai kolam retensi ketika terjadi peningkatan intensitas hujan.
Air hujan yang berpotensi menimbulkan limpasan akan ditampung sementara di embung sebelum dialirkan secara bertahap. Dengan demikian, keberadaan embung diharapkan dapat membantu mengurangi tekanan aliran air yang berpotensi memicu genangan maupun banjir di kawasan sekitar.
Konsep tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemkab Bekasi memperkuat tata kelola sumber daya air secara terpadu, dengan menggabungkan fungsi penyediaan air untuk pertanian dan pengendalian limpasan air.
Perkuat Ketahanan Pangan
Pembangunan embung menjadi salah satu bagian dari upaya pemerintah daerah memperkuat infrastruktur pertanian di wilayah selatan Kabupaten Bekasi. Ketersediaan air yang lebih terjamin menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas pertanian, khususnya ketika menghadapi perubahan pola musim.
Pemkab Bekasi berharap pembangunan embung dapat memberikan manfaat langsung bagi petani melalui peningkatan kepastian pengairan, produktivitas lahan, serta peluang peningkatan frekuensi tanam dan panen.
Di sisi lain, fungsi retensi air diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar dengan membantu mengendalikan limpasan air saat musim penghujan.
Melalui pembangunan infrastruktur tersebut, Pemkab Bekasi berupaya membangun sistem pengelolaan air yang tidak hanya bersifat responsif terhadap kekeringan, tetapi juga mampu mendukung kebutuhan pertanian dan mengantisipasi risiko banjir secara berkelanjutan.
Red/JN)*Humas Pemkab Bekasi













