“Dari Pekarangan ke Dapur SPPG, Polres Metro Bekasi Kota Panen Melon, Terong, dan Lele”

KOTA BEKASI —jaringannasional.comPekarangan tak lagi sekadar ruang kosong di antara bangunan. Di Perum Vida Bekasi, Mustikajaya, lahan tersebut justru dipanen menjadi bagian dari rantai pangan. Polres Metro Bekasi Kota menggelar Panen Raya Pekarangan Pangan Lestari (P2L), dengan hasil budidaya berupa melon, terong, dan ikan lele.

Panen raya berlangsung di lahan P2L Perum Vida Bekasi, Jalan Alun-Alun Selatan, RT 003/RW 010, Kelurahan Padurenan, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi. Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan Polres Metro Bekasi Kota terhadap program ketahanan pangan nasional sekaligus implementasi program Polda Metro Jaya.

Kapolres Metro Bekasi Kota hadir bersama Ketua Bhayangkari Cabang Polres Metro Bekasi Kota serta jajaran pengurus Bhayangkari.

Kehadiran mereka menegaskan dukungan terhadap pengelolaan P2L yang diarahkan tidak berhenti pada aktivitas bercocok tanam, tetapi menghasilkan komoditas pangan yang dapat dimanfaatkan secara nyata.

Komoditas yang dipanen meliputi buah melon, sayur terong, dan ikan lele. Hasil budidaya tersebut selanjutnya akan dimanfaatkan sebagai pasokan bahan baku bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polda Metro Jaya yang berada di wilayah Bekasi Utara.

Skema tersebut membuat fungsi P2L menjadi lebih luas. Lahan yang sebelumnya berpotensi menjadi ruang tidak produktif kini diarahkan untuk menghasilkan pangan sekaligus terhubung dengan kebutuhan bahan baku layanan pemenuhan gizi.

Dengan demikian, panen raya bukan sekadar seremoni memetik hasil kebun. Ada mata rantai yang ingin dibangun: lahan produktif, hasil budidaya, hingga pemanfaatan untuk kebutuhan pangan masyarakat.


Polres Metro Bekasi Kota bersama Bhayangkari juga mendorong agar konsep serupa dapat diterapkan masyarakat melalui pemanfaatan pekarangan rumah secara produktif dan berkelanjutan.

Pesannya sederhana: ketahanan pangan tidak selalu dimulai dari lahan yang luas. Kadang, ia justru tumbuh dari pekarangan yang sebelumnya dianggap biasa saja.