Reses Rizki Topananda di Perwira, Aspirasi Warga Dibawa ke Meja Anggaran, Bukan Sekadar Jadi Kenangan

Reses Rizki Topananda di Perwira: Aspirasi Warga Dibawa ke Meja Anggaran, Pendidikan dan Kesehatan Jadi Prioritas

BEKASI —jaringannasional.comAspirasi masyarakat menjadi fokus dalam kegiatan Reses III DPRD Kota Bekasi Masa Jabatan 2024–2029 yang dilaksanakan anggota DPRD Kota Bekasi dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Rizki Topananda, S.Sos., di lingkungan RW 08, RT 03, Kelurahan Perwira, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Minggu (11/10/2026).

Mengusung semangat “Serap Aspirasi Masyarakat”, kegiatan tersebut menjadi ruang dialog antara wakil rakyat dan warga untuk menyampaikan kebutuhan, keluhan, serta usulan pembangunan dan pelayanan publik di lingkungan mereka.

Dalam kesempatan itu, Rizki menjelaskan bahwa reses merupakan jalur bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada anggota DPRD. Aspirasi tersebut selanjutnya dapat diperjuangkan melalui pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD dalam proses perencanaan dan pembahasan anggaran daerah.

“Kalau melalui forum reses, aspirasi masyarakat bisa langsung disampaikan kepada anggota dewan untuk dibawa ke tingkat kota dan dimusyawarahkan dalam proses pembahasan anggaran antara eksekutif dan legislatif. Pokok-pokok pikiran yang kita himpun dari masyarakat itulah yang akan kita perjuangkan agar bisa menjadi program pembangunan,” ujar Rizki.

Ia menegaskan, aspirasi yang disampaikan melalui reses perlu dipahami sebagai bagian dari proses perencanaan pembangunan yang harus melalui tahapan dan penentuan skala prioritas. Karena itu, tidak seluruh usulan dapat direalisasikan sekaligus dalam satu tahun anggaran.

“Saya berharap Bapak dan Ibu bisa memahami bahwa pembangunan dilakukan secara bertahap. Tidak semuanya bisa langsung direalisasikan sekaligus. Aspirasi dari satu RW ke RW lainnya perlu dikawal dan diperjuangkan secara berkelanjutan, termasuk untuk program tahun-tahun berikutnya,” katanya.

Rizki mengakui, dinamika fiskal dan kebijakan efisiensi anggaran dapat memengaruhi penentuan program prioritas pemerintah daerah. Sejumlah usulan yang belum dapat diakomodasi dalam perencanaan tahun berjalan masih berpeluang diperjuangkan kembali melalui mekanisme reses dan pembahasan anggaran berikutnya.

Menurut dia, pembangunan Kota Bekasi tidak semestinya hanya diukur dari kemajuan infrastruktur fisik, seperti jalan yang mulus atau gedung yang semakin baik. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat harus tetap menjadi perhatian utama.

“Jangan sampai kita hanya fokus membangun fisik, tetapi sumber daya manusianya terabaikan. Kita tentu senang melihat jalan yang bagus dan gedung yang baik, tetapi masyarakat juga harus mendapatkan akses kesehatan dan pendidikan yang bermutu serta terjangkau,” tutur Rizki.

Ia menekankan bahwa pelayanan dasar tersebut harus tetap menjadi acuan pemerintah Kota Bekasi dalam menentukan kebijakan, apa pun kondisi anggaran yang dihadapi.

Dorong Akses Kesehatan dan Pendidikan

Selain pembangunan lingkungan, Rizki juga membuka ruang komunikasi bagi masyarakat yang menghadapi kesulitan mengakses pelayanan kesehatan. Warga yang membutuhkan pendampingan, termasuk ketika mengalami kendala memperoleh akses rumah sakit, dipersilakan menyampaikan persoalannya kepada dirinya atau tim.

“Kalau ada warga yang membutuhkan bantuan akses kesehatan, misalnya kesulitan mendapatkan pelayanan di rumah sakit, silakan menghubungi kami. Saya juga memiliki tim yang bisa membantu mengawal persoalan tersebut agar warga memperoleh perhatian dan penanganan yang diperlukan,” ujarnya.

Di bidang pendidikan, ia menyoroti pentingnya memastikan anak-anak tetap memperoleh kesempatan belajar meskipun tidak tertampung di sekolah negeri.

Rizki menyinggung upaya Pemerintah Kota Bekasi pada 2026 melalui program percontohan di sejumlah sekolah swasta, dengan pembiayaan yang ditanggung pemerintah daerah bagi peserta didik yang memenuhi ketentuan. Program tersebut menjadi salah satu alternatif untuk membantu keluarga yang menghadapi keterbatasan biaya pendidikan.

“Ketika ada anak yang tidak tertampung di sekolah negeri, kita berupaya mencari solusi agar mereka tetap bisa bersekolah tanpa membebani keluarga dengan biaya yang tidak mampu mereka tanggung. Memang belum semua sekolah swasta terlibat, tetapi beberapa sekolah sudah menjalankan program percontohan pada 2026,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa dukungan pendidikan perlu berlanjut hingga jenjang perguruan tinggi melalui pemberian beasiswa kepada mahasiswa yang memenuhi persyaratan dan benar-benar berhak menerimanya.

Menurut Rizki, investasi pendidikan bagi generasi muda merupakan bagian penting dari upaya menyiapkan masa depan Kota Bekasi. Anak-anak usia sekolah hingga mahasiswa perlu memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan meningkatkan kualitas hidupnya.

“Anak-anak muda yang sedang menempuh pendidikan, baik di sekolah maupun perguruan tinggi, harus mendapatkan kesempatan untuk berkembang. Masa depan Kota Bekasi juga bergantung pada kualitas generasi mudanya,” tuturnya.

Aspirasi Perlu Dikawal hingga Terealisasi

Melalui kegiatan reses tersebut, Rizki berharap warga terus menyampaikan masukan, saran, dan kebutuhan secara terbuka agar dapat menjadi bahan perjuangan dalam proses kebijakan daerah.

Ia menegaskan, penyerapan aspirasi tidak berhenti pada forum pertemuan. Usulan masyarakat perlu dikawal melalui mekanisme perencanaan, pembahasan anggaran, serta penentuan prioritas sesuai kewenangan dan kemampuan keuangan daerah.

Pada akhirnya, keberhasilan reses bukan semata-mata diukur dari banyaknya aspirasi yang tercatat, melainkan juga dari kejelasan proses pengawalan dan peluang realisasinya. Sebab, bagi masyarakat, pembangunan bukan hanya tentang janji perubahan, tetapi juga tentang hadirnya pelayanan publik yang semakin mudah dijangkau dan manfaatnya benar-benar dirasakan.