Jaringannasional.com [ BEKASI ] – Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Kota Bekasi menggelar diskusi reflektif di Kantor IPHI, Kompleks Islamic Center, Jumat (13/2). Pertemuan ini mengupas tuntas bahwa kemabruran haji bukanlah label statis, melainkan sebuah “bahan bakar” untuk perubahan perilaku yang berdampak luas bagi masyarakat.
Acara dibuka oleh Gus Amin idris selaku sekretaris IPHI kota Bekasi dalam pembukaan gus amin mengucapkan apresiasi dan bayak terimakasih ats kehadiran para peserta, acara bertujuan menjadi ajang silaturahmi utuk kebangkitan kembali giroh (semangat) perjalan haji para peserta.
Ketua IPHI Kota Bekasi Hendri Hamzah menekankan pentingnya memahami hakikat kemabruran setelah pulang dari berhaji, apakah tolak ukur atau parameter pasti bawah seseorang telah mencapai derajat mabrur, kegelisahan bahwa selama ini gambaran tentang mabrur mungkin belum dipahami secara mendalam oleh para jamaah hal inilah yang mustinya kita kupas secara mendalam dan menyeluruh.
Hadir sebagai narasumber utama, H. Siswadi (Dewan Pembina DPP PPDI) beliau memaparkan perspektif sejarah dan peran sosial jamaah haji, asal usul gelar haji beliau menjelaskan bahwa historis pengunaan gelar “haji” di Indonesia beemuka dari upaya pemerintah kolonial Belanda untuk mengontrol dan mengawasi orang orang yang telah kembali dari Mekah, karena dianggap memiliki potensi perlawanan. Beliau mengajak jamaah yang telah berhaji dimasa ini bertransformasi mengunakan status gelar haji mereka bukan sekedar gelar melainkan sebagai sarana peningkatan kualitas diri dan kontribusi sosial.
Diskusi yang berlangsung hangat tersebut menyepakati bahwa kata mabrur—yang berakar dari al-birru (kebaikan)—tidak bisa diukur hanya dari kepulangan seseorang ke tanah air. Indikator utamanya adalah transformasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Secara psikologis, pengalaman spiritual di tanah suci adalah reset mental yang seharusnya menghasilkan sustainable behavioral change atau perubahan perilaku yang berkelanjutan di tanah air.Haji bukan soal “sampai di Mekkah”, tapi soal “sampai pada kemanusiaan”.
acara ditutup dengan dosa fan phto bersama para peserta yang hadir. (Npm)












