Hanif “Si Palang Pintu Cilik”, Pesilat dan Pendekar Pantun dari Tanah Betawi.

Jaringannasional.com – Kota Bekasi.

Di tengah hiruk-pikuk modernisasi kota Jakarta, hadir seorang anak Betawi asli yang mencuri perhatian publik. Namanya Hanif, bocah yang viral sebagai pesilat dan pemain pantun cilik dalam tradisi Palang Pintu.

Di usianya yang masih belia, Hanif sudah berdiri gagah di panggung-panggung adat, menjaga marwah budaya leluhurnya dengan penuh percaya diri.Tradisi Palang Pintu Betawi bukan sekadar hiburan dalam prosesi pernikahan. Ia adalah simbol kehormatan, kecerdasan, dan keberanian.

Di dalamnya terdapat adu silat sebagai lambang ketangkasan, serta adu pantun sebagai lambang kepiawaian bertutur kata dan adab. Hanif memahami itu semua.

Ia tidak hanya menghafal pantun, tetapi juga menghayati maknanya—tentang sopan santun, harga diri, dan kebanggaan menjadi orang Betawi.

Bakat Cilik yang MengagumkanHanif dikenal luas sebagai “Si Palang Pintu Cilik”. Gerakan silatnya lincah dan tegas, sementara pantunnya mengalir lancar dengan logat Betawi yang kental.

Keberaniannya tampil di depan umum membuat banyak orang takjub. Ia membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk menjaga tradisi.Bersama Babeh WawanDalam setiap aksinya, Hanif kerap tampil bersama Babeh Wawan.

Duet ini menjadi perpaduan yang harmonis antara pengalaman dan semangat muda. Babeh Wawan membimbing dengan kebijaksanaan, sementara Hanif tampil dengan energi dan keberanian.

Kolaborasi keduanya menghadirkan pertunjukan Palang Pintu yang hidup, penuh tawa, sekaligus sarat makna.Viral di Media Sosial dan TelevisiAksi Hanif banyak dibagikan melalui berbagai platform seperti TikTok dan YouTube. Ia juga tampil dalam program di DAAI TV, membuat namanya semakin dikenal luas.

Video-videonya memperlihatkan bagaimana seorang anak kecil mampu melestarikan budaya dengan penuh kebanggaan.

Media sosial pun menjadi jembatan dakwah budaya yang memperkenalkan Palang Pintu kepada generasi milenial dan Gen Z.

Dedikasi untuk Warisan BudayaSejak usia dini, Hanif telah belajar silat dan seni pantun. Dedikasinya bukan semata untuk popularitas, melainkan untuk menjaga warisan budaya Betawi agar tetap hidup dan dikenal luas.

Ia menjadi simbol bahwa tradisi tidak harus kalah oleh zaman. Justru dengan sentuhan generasi muda, budaya bisa tampil lebih segar dan relevan.Hanif adalah bukti bahwa kecintaan pada budaya bisa tumbuh sejak kecil.

Dari panggung kecil hingga layar televisi dan media sosial, langkahnya adalah pesan bagi kita semua: budaya adalah identitas, dan identitas harus dijaga dengan bangga.

Semoga Hanif terus tumbuh menjadi pendekar sejati—bukan hanya dalam silat, tetapi juga dalam menjaga nilai, adab, dan kehormatan budaya Betawi.

Pimpinan Redaksi : Yusup Bahtiar