Eks Pimpinan NII OKU Timur Ingatkan Potensi Infiltrasi Paham Radikal Selama Ramadhan

Jaringannasional.com [ ​OKU TIMUR ] – Menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, kewaspadaan terhadap penyusupan paham radikal di tengah masyarakat kembali menjadi perhatian serius. Momentum ibadah yang intens dinilai kerap dimanfaatkan kelompok tertentu untuk menyebarkan ideologi yang bertentangan dengan konstitusi, baik melalui forum keagamaan maupun ruang digital.

​Peringatan ini disampaikan langsung oleh Imron, eks pimpinan Negara Islam Indonesia (NII) Desa Batumas, yang kini menjabat sebagai Ketua Pengurus Anak Ranting Muhammadiyah Desa Batu Mas, Kecamatan Belitang II, Kabupaten OKU Timur.

​Imron mengimbau masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak mudah tergiur dengan gerakan yang berlindung di balik simbol dan jargon keagamaan.

Berdasarkan pengalamannya, kelompok radikal sering kali menggunakan strategi “senyap” dalam merekrut anggota baru.

​”Biasanya penyusupan terjadi lewat forum diskusi. Mereka memunculkan tokoh-tokoh yang tidak familiar, tapi punya pengaruh kuat. Nama kelompok sering dirahasiakan, sehingga anggota baru tidak sadar sudah masuk dalam jaringan,” ungkap Imron pada Rabu (25/02/2026).

​Ia menyoroti bahwa kelompok usia 11 hingga 18 tahun merupakan target yang paling rentan. Pada usia tersebut, remaja sedang dalam fase pencarian jati diri sehingga mudah terpengaruh narasi persuasif yang ekstrem.

​Imron menekankan dua poin krusial untuk membendung radikalisme:
​Pengawasan Ketat Orang tua, harus proaktif memantau pergaulan dan konten digital yang diakses anak. Masyarakat diminta tidak ragu melaporkan aktivitas mencurigakan kepada pihak berwenang agar dapat segera ditindaklanjuti.

​Dalam kesempatan tersebut, Imron juga bercerita mengenai transformasi pribadinya. Ia mengakui bahwa pandangannya berubah total berkat pendekatan Humanis dan Persuasif yang dilakukan oleh jajaran Kepolisian, mulai dari tingkat Polda hingga Polres.

​Imron mengaku dulu didoktrin untuk takut pada aparat karena dianggap akan menggunakan cara militer.
​Realitanya di Lapangan Ternyata pembinaan yang diterimanya justru sangat komunikatif dan jauh dari kesan represif.
Ia berharap pola penanganan Presisi ini terus dipertahankan agar tidak memicu ketegangan baru di tengah masyarakat yang pernah terpapar.

​”Yang kami rasakan sekarang sudah tepat—presisi dan humanis. Jika pendekatan ini berubah, kami khawatir justru memunculkan konflik baru,” tutupnya.

Melalui penguatan kewaspadaan kolektif selama bulan Ramadhan, diharapkan ruang ibadah tetap menjadi tempat yang suci dan bersih dari infiltrasi paham yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa. (Dnl)