Nanang Kosim Kecam Serangan AS–Israel ke Iran: Kemanusiaan Terluka, Anak-Anak Jadi Korban Perang

Jaringannasional.com – Kota Bekasi.

Ketua DPD Gerakan Rakyat Kota Bekasi, Nanang Kosim, menyampaikan kecaman keras dan penuh keprihatinan atas serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Dalam pernyataannya, Nanang menegaskan bahwa tragedi kemanusiaan yang terjadi di Iran bukan sekadar konflik geopolitik antarnegara, melainkan luka mendalam bagi nilai-nilai kemanusiaan universal, 01 February 2026.

Serangan udara yang dilaporkan menyasar berbagai wilayah di Iran disebut telah menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar, termasuk anak-anak yang sedang menjalani aktivitas belajar di sekolah saat serangan terjadi.“Ketika bom dan rudal menghantam ruang-ruang kelas, yang hancur bukan hanya bangunan, tetapi juga mimpi dan masa depan generasi,” ujar Nanang dengan nada prihatin.

Ia menegaskan bahwa tidak ada pembenaran apa pun atas hilangnya nyawa anak-anak tak berdosa dalam konflik bersenjata.Berbagai laporan dari lembaga hak asasi manusia dan organisasi kemanusiaan internasional menyebutkan bahwa sejumlah area sipil seperti sekolah, lingkungan permukiman, serta fasilitas non-militer lainnya turut terdampak.

Korban jiwa dilaporkan mencapai ratusan orang, termasuk anak-anak sekolah yang menjadi korban saat kegiatan belajar berlangsung. Di kota Minab, misalnya, beredar laporan bahwa lebih dari 100 anak dan warga sipil tewas dalam satu serangan yang menghantam kompleks pendidikan.

Serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer besar yang dilakukan Israel dengan dukungan militer Amerika Serikat, yang disebut menargetkan fasilitas militer serta lokasi strategis di Iran, termasuk tempat tinggal para pemimpin negara itu.

Dalam perkembangan yang mengejutkan dunia, laporan juga menyebutkan bahwa pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, termasuk di antara korban tewas dalam serangan tersebut. Namun, bagi Nanang Kosim, fokus utama bukanlah pada dinamika politik kekuasaan, melainkan pada nasib rakyat sipil yang menjadi korban.

Ia menilai bahwa setiap konflik bersenjata yang mengorbankan warga tak berdosa merupakan kemunduran peradaban.“Kita tidak boleh membiarkan dunia terbiasa melihat darah anak-anak tumpah di layar berita. Kemanusiaan harus lebih tinggi daripada kepentingan politik,” tegasnya.

Nanang juga mengajak masyarakat Kota Bekasi untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan lintas bangsa dan agama. Menurutnya, tragedi di Iran harus menjadi pengingat bahwa perdamaian bukan sekadar slogan, melainkan tanggung jawab bersama.

Ia mendorong agar komunitas internasional, termasuk lembaga-lembaga global, segera mengambil langkah konkret untuk menghentikan eskalasi dan memastikan perlindungan warga sipil.Lebih jauh, ia menyerukan pentingnya diplomasi dan dialog sebagai jalan utama penyelesaian konflik.

Baginya, sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa perang hanya menyisakan duka, sementara perdamaian membuka ruang bagi harapan dan rekonsiliasi.“Anak-anak Iran adalah anak-anak dunia.

Air mata mereka adalah air mata kemanusiaan kita semua,” tutup Nanang Kosim dengan penuh harap, sembari mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendoakan para korban dan terus menyuarakan perdamaian global.

Narasi ini menjadi pengingat bahwa di tengah kerasnya dentuman senjata, suara nurani dan solidaritas kemanusiaan tidak boleh pernah padam.

YB