Jaringannasional.com – Sukabumi.
Lima bulan sejak banjir bandang menghantam Kampung Tugu, Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, tak banyak yang berubah—kecuali satu hal: janji pemerintah yang kini seolah menguap tanpa bekas.Di saat pejabat datang silih berganti pascabencana, membawa empati dan janji pemulihan, realitas hari ini justru berbicara sebaliknya.
Puluhan warga masih hidup dalam keterbatasan, bertahan di tenda-tenda darurat yang kian rapuh oleh waktu dan cuaca.Bencana mungkin telah berlalu, tetapi penderitaan belum usai.
Ironisnya, yang terasa hilang justru kehadiran negara.ER (43), warga Kampung Citugu RT 01 RW 01, menjadi suara dari kegelisahan yang lama terpendam.
Dengan nada kecewa, ia mempertanyakan komitmen pemerintah yang hingga kini belum juga terwujud.“Sudah lima bulan kami menunggu.
Tapi bantuan yang dijanjikan belum ada kejelasan. Kami masih di tenda. Dulu katanya rumah akan diperbaiki, tapi sampai sekarang tidak ada realisasi,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Janji perbaikan rumah yang sempat digaungkan nyatanya hanya berhenti pada wacana. Tak ada kepastian waktu, tak ada transparansi, dan yang lebih menyakitkan—tak ada rasa urgensi dari pihak yang seharusnya bertanggung jawab.
Persoalan semakin keruh dengan munculnya polemik bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sukabumi.
Pendataan yang dilakukan dinilai tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan.“Ada rumah yang sudah didata dan diberi stempel Baznas, tapi kami tidak tahu siapa yang benar-benar menerima bantuan. Ini jadi tanda tanya besar.
Jangan sampai bantuan hanya berhenti di data,” tambahnya.Kondisi ini memunculkan dugaan adanya ketidakterbukaan dalam distribusi bantuan.
Warga mulai mempertanyakan: apakah ini soal kelalaian, atau ada yang sengaja diabaikan?Di tengah situasi sulit, warga tak punya banyak pilihan selain bertahan.
Namun kesabaran tentu ada batasnya. Ketika janji tak ditepati, yang tersisa hanyalah rasa kecewa dan hilangnya kepercayaan.“Kami tidak minta banyak. Kami hanya ingin kejelasan. Ini sudah lima bulan, tapi seperti tidak ada yang peduli,” pungkas ER.
Kisah dari Cisolok bukan sekadar tentang bencana alam, melainkan tentang bagaimana negara merespons warganya saat mereka paling membutuhkan. Ketika bantuan lambat, pengawasan lemah, dan kepedulian terasa minim, maka yang terjadi bukan hanya krisis kemanusiaan—tetapi juga krisis kepercayaan.
Pertanyaannya kini sederhana: di mana sebenarnya tanggung jawab pemerintah saat rakyatnya masih hidup di tenda?.
Dede.












