Polsek Pondok Gede Dan Puskesmas Bersatu Lawan Kekerasan Perempuan, IPTU H.Pardi: Jangan Ada Lagi Korban Yang Memilih Diam!!!.

Jaringannasional.com – Kota Bekasi.

Upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan terus digencarkan di wilayah Pondok Gede, 20 Mei 2026.

Kali ini, sinergi antara aparat kepolisian, tenaga kesehatan, dan unsur sosial masyarakat diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi bersama Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kecamatan Pondok Gede yang menghadirkan Kanit Binmas Polsek Pondok Gede, IPTU H. Pardi Prasetyo, sebagai narasumber utama.Kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat kesadaran masyarakat terhadap maraknya kasus kekerasan terhadap perempuan yang masih terjadi di lingkungan sosial maupun rumah tangga.

Sosialisasi ini juga menegaskan bahwa persoalan kekerasan perempuan bukan lagi isu pribadi semata, melainkan persoalan kemanusiaan yang harus menjadi perhatian bersama.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Puskesmas Pondok Gede, Dr. Agung Insani Firdaus, Kasi Kesos Jatiwaringin Imas Sunarya, serta Kasi Kesos Kecamatan Pondok Gede Indah. Kehadiran para pemangku kepentingan itu memperlihatkan komitmen bersama dalam membangun perlindungan terhadap perempuan melalui pendekatan hukum, sosial, dan kesehatan.

Dalam penyampaiannya, IPTU H. Pardi Prasetyo menyoroti masih banyaknya kasus kekerasan terhadap perempuan yang tidak terungkap karena korban memilih bungkam akibat tekanan, rasa takut, hingga ancaman dari pelaku.

Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan serius yang harus dihadapi bersama.Ia menegaskan bahwa masyarakat harus mulai berani peduli dan tidak lagi menganggap kekerasan terhadap perempuan sebagai persoalan internal keluarga yang tidak boleh dicampuri.

Sebab, pembiaran hanya akan memperpanjang penderitaan korban dan membuka peluang terjadinya kekerasan berulang.“Kita tidak boleh lagi menormalisasi kekerasan terhadap perempuan.

Sekecil apa pun bentuk kekerasan, baik fisik, verbal, psikis maupun penelantaran, harus dicegah dan ditindak. Jangan ada lagi korban yang memilih diam karena takut tidak mendapat perlindungan,” tegas IPTU H. Pardi Prasetyo.

Ia juga menekankan bahwa kepolisian siap memberikan perlindungan dan pendampingan kepada korban serta mendorong masyarakat untuk segera melapor apabila menemukan tindakan kekerasan di lingkungan sekitar.

Sementara itu, Dr. Agung Insani Firdaus dalam paparannya mengungkap bahwa dampak kekerasan terhadap perempuan tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma psikologis yang dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Menurutnya, banyak korban mengalami gangguan kecemasan, depresi, kehilangan rasa percaya diri, bahkan tekanan mental berat akibat kekerasan yang dialami. Ironisnya, tidak sedikit korban yang akhirnya memilih menutup diri karena merasa malu atau takut dihakimi lingkungan sekitar.Dr. Agung menilai edukasi kepada masyarakat menjadi langkah penting agar korban mendapatkan dukungan dan tidak merasa sendirian menghadapi tekanan yang dialami.

Ia juga mengingatkan bahwa fasilitas kesehatan memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan pelayanan medis sekaligus pendampingan psikologis terhadap korban kekerasan.“Kekerasan terhadap perempuan adalah ancaman nyata terhadap kesehatan masyarakat.

Dampaknya sangat luas, bukan hanya kepada korban, tetapi juga terhadap anak dan lingkungan keluarga. Karena itu, seluruh elemen harus hadir memberikan perlindungan dan dukungan kepada korban,” ujar Dr. Agung Insani Firdaus.

Ia menambahkan bahwa pencegahan kekerasan harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga, dengan membangun komunikasi yang sehat, kepedulian sosial, serta pendidikan moral yang kuat.Kegiatan sosialisasi berlangsung penuh antusias dengan berbagai sesi diskusi dan tanya jawab bersama peserta dari unsur PSM, perangkat wilayah, serta masyarakat.

Para peserta juga diberikan pemahaman mengenai langkah penanganan korban, prosedur pelaporan, hingga pentingnya membangun lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak.

Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya kekerasan perempuan semakin meningkat serta tercipta kolaborasi kuat antara kepolisian, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan unsur sosial masyarakat dalam memutus rantai kekerasan di tengah lingkungan masyarakat.

Yusup Bahtiar