Syukur dan Jaga Selaras Alam, Kadipaten Pakualaman Gelar Prosesi Labuhan di Pantai Glagah

​KULON PROGO, JaringanNasional.com — Kadipaten Pakualaman kembali menggelar upacara adat Hajad Dalem Labuhan di Pantai Glagah, Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, pada Jumat (26/6). Tradisi tahunan ini dilaksanakan sebagai wujud rasa syukur atas anugerah kehidupan, sekaligus pengingat pentingnya menjaga keselarasan antara manusia, budaya, dan lingkungan.

​Prosesi yang digelar setiap tanggal 10 Sura dalam penanggalan Jawa ini merupakan warisan budaya adiluhung yang terus dilestarikan sejak masa pemerintahan Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam II.

​Jejak Sejarah di Pesanggrahan Glagah

​Rangkaian ritual sakral ini diawali dari Pesanggrahan Glagah. Bangunan bersejarah tersebut didirikan pada masa KGPAA Paku Alam V dan dulunya berfungsi sebagai tempat persinggahan keluarga kerajaan saat mengunjungi kawasan pesisir selatan.

​Dari pesanggrahan ini, sebanyak lima ancak yang berisi gunungan hasil bumi serta ubo rampe (perlengkapan ritual) mulai diarak menuju bibir Pantai Glagah.
​Kirab Budaya dan Daya Tarik Wisata
​Kirab budaya ini dipimpin langsung oleh sentana dalem, yakni:

• GPH Wijoyo Harimurti

• GPH Indrokusumo

​Arak-arakan juga diikuti oleh para pendherek di antaranya BRAy Indrokusumo, KRMT Kusumo Aminoto, dan KRMT Suryo Kusumo Hadiwijoyo, serta jajaran Sedherek Dalem, Sentana Dalem, dan Abdi Dalem Kadipaten Pakualaman.

​Langkah demi langkah para abdi dalem yang berjalan kaki menuju pantai diiringi oleh pasukan bregada, usungan tombak pusaka, alunan suling, serta tabuhan musik tradisional Jawa.

​Suasana sakral yang berpadu dengan kemegahan budaya ini rupanya menjadi magnet tersendiri bagi publik. Warga setempat hingga wisatawan terpantau telah memadati kawasan Pantai Glagah sejak pagi hari untuk menyaksikan prosesi pelarungan.

​Bagi masyarakat Jawa, Labuhan bukan sekadar seremonial atau tontonan semata. Ritual ini membawa pesan spiritual dan ekologis yang mendalam mengenai bagaimana manusia harus menempatkan dirinya secara bijak sebagai bagian dari alam semesta.

​Antusiasme besar dari masyarakat yang hadir juga menjadi bukti bahwa tradisi ini masih memiliki ruang penting dalam kehidupan modern. Selain melestarikan sejarah, agenda ini efektif memperkuat ikatan sosial dan menegaskan kembali identitas budaya masyarakat Yogyakarta.(Red/JN)*Jogja