Bukan Sekadar Diskusi, Pemuda Persis Cibatu Kawinkan Strategi Pangan Syariat dengan Aksi Sosial Nyata

​Jaringannasional.com [ GARUT ] – PC Pemuda Persis Cibatu membuktikan bahwa gagasan ekonomi keumatan tidak harus selalu berakhir di atas meja seminar. Melalui Seminar Nasional bertema “Desain Ekonomi Ummat untuk Penguatan Pangan Berbasis Syariat”, organisasi kepemudaan ini mengolaborasikan diskusi kebijakan tingkat tinggi dengan aksi sosial yang menyentuh akar rumput di Lapangan Ponpes Persis 81 Cibatu, Minggu (8/2).

​Di tengah perdebatan serius mengenai ketahanan pangan nasional, lapangan pesantren tersebut disulap menjadi pusat layanan kesehatan masyarakat. Sedikitnya 100 warga mendapatkan layanan pengobatan gratis, ditambah puluhan pendonor darah yang antusias menyumbangkan darahnya melalui kerja sama dengan PMI Garut dan UPTD Puskesmas Cibatu.

​”Kami ingin semangat ekonomi syariat ini terasa langsung manfaatnya. Sambil belajar desain ekonomi dari para pakar, warga juga pulang dengan kondisi kesehatan yang terpantau,” ujar ketua panitia pelaksana. Aksi ini menjadi penegas bahwa gerakan Pemuda Persis tidak ingin terjebak dalam ‘menara gading’ diskusi, melainkan hadir menjawab kebutuhan dasar masyarakat.

​Seminar ini juga menjadi momentum penting bagi penguatan regulasi. Kehadiran Anggota DPR RI, Khaeruddien Amin, M.H., sebagai keynote speaker membawa sinyal kuat bahwa konsep ekonomi keumatan sedang didorong masuk ke ranah kebijakan publik yang lebih luas.

​Para pakar yang hadir, mulai dari Dr. Latif Awaluddin (DSN MUI Pusat) hingga K.H. T. Romly Qimaruddien (Komisi Fatwa MUI), sepakat bahwa sistem syariat bukan sekadar label moral. Dr. Latif menekankan bahwa instrumen syariat adalah solusi teknis menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan kunci kemandirian pangan.

​Dipandu oleh moderator Ust. Robby Radliya, S.Psi, diskusi berlangsung dinamis. PC Pemuda Persis Cibatu mencoba mendobrak stigma lama bahwa ekonomi syariat hanya terbatas pada sektor perbankan. Bersama Ust. Ikhwan Muttaqien, M.E.Sy, para peserta diajak menggali potensi pangan lokal sebagai kekuatan utama ekonomi umat.

​Kegiatan yang merupakan rangkaian penyerta Musyawarah Cabang (MUSCAB) ini menjadi pernyataan sikap: bahwa generasi muda Persis saat ini lebih kritis dan peduli pada isu sistemik seperti kedaulatan pangan. Bagi mereka, kemandirian umat harus dimulai dari perut yang kenyang dengan cara yang halal dan sistem yang berkeadilan.(Abz)