Jaringannasional.com [ BEKASI ] – Di balik riuh rendah perayaan Hari Jadi ke-29 Kota Bekasi yang berlangsung khidmat di Gedung Paripurna DPRD, Selasa (10/03), terselip sebuah pesan kuat mengenai transformasi. Kota yang secara historis bermakna “Bagian dari Bulan” (Candrabaga) ini kini tengah berupaya membuktikan diri bukan sekadar kota satelit, melainkan metropolis yang mandiri dan manusiawi.
”Membangun Kota Bekasi tidak dilihat dari warna-warni partai politik, tetapi bagaimana keberlangsungan pembangunan itu berjalan dengan baik dan hadir di tengah masyarakat,” tegas Tri Adhianto.
Dedi mengingatkan bahwa “wajah keren” sebuah kota akan kehilangan maknanya jika pelayanan dasar belum menyentuh seluruh lapisan.
“Warga kita masih banyak yang belum memiliki jaminan kesehatan. Inilah yang perlu dibenahi, mulai dari birokrasi, tata ruang, hingga layanan sosial,” ungkap Gubernur Dedi
Sejak memisahkan diri menjadi daerah otonom pada 1997, Bekasi telah bertransformasi dari wilayah agraris-industri menjadi pusat ekonomi yang tangguh pasca-pandemi. Tantangan ke depan bagi jajaran pimpinan seperti Ketua DPRD Sardi Effendi, Dandim Kolonel Arm Krisrantau Hermawan, dan Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Pol. Kusumo Wahyu Bintoro adalah menjaga stabilitas di tengah pertumbuhan yang masif.
Perayaan ke-29 ini bukan sekadar seremoni potong tumpeng, melainkan sebuah janji politik yang harus dituntaskan: memastikan bahwa gedung-gedung tinggi dan jalanan yang “keren” benar-benar memberikan rasa nyaman bagi warga yang tinggal di dalamnya.(Npm)












