Proyek Creative Center Hub Siliwangi Bogor: Antara Harapan Peradaban atau Sekadar Proyek Fisik?

​Jaringannasional.com BOGOR — Rencana pembangunan Creative Center Hub Siliwangi di kawasan Tegar Beriman, Cibinong, kini menjadi pusat perhatian. Di balik ambisinya menjadi wadah 17 subsektor ekonomi kreatif, proyek ini menghadapi tantangan besar: membuktikan diri sebagai pusat peradaban atau berakhir sebagai “proyek tanpa jiwa.”

Landasan Hukum dan Harapan Publik

​Pembangunan ini secara normatif mengacu pada dua landasan hukum utama:

  1. UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan: Menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan.
  2. UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah: Menuntut tata kelola yang efektif, transparan, dan akuntabel.

​Meskipun diproyeksikan memiliki fasilitas teater, ruang pamer, dan ruang kolaborasi, publik khawatir gedung ini hanya akan menjadi pembangunan fisik tanpa program pemberdayaan yang berkelanjutan.

​Kekhawatiran muncul berkaca pada minimnya geliat kreatif di creative center daerah tetangga, seperti Kota dan Kabupaten Bekasi, yang dinilai megah secara bangunan namun sepi aktivitas.

Ketua Umum LSM SIKAT, R. Deni Romli Gandasoebrata, memberikan peringatan keras terkait pola pembangunan yang cenderung mengejar fisik semata.

​”Jangan sampai Creative Center di Bogor hanya menjadi monumen proyek yang megah di foto, tapi kosong di realita. Kami juga menyoroti potensi penyimpangan anggaran jika pengawasan lemah. Ini bukan soal menolak pembangunan, tapi memastikan proyek ini tidak menjadi beban publik di kemudian hari,” tegas Deni, Minggu (19/4/2026).

​Ia juga mengingatkan pentingnya transparansi lintas OPD (Organisasi Perangkat Daerah) agar proyek ini tidak menjadi “lahan bancakan” bagi pihak-pihak tertentu.

​Di sisi lain, para pegiat budaya menekankan bahwa kunci keberhasilan pusat kreatif ini terletak pada koneksi dengan identitas lokal. Berdasarkan Permen PANRB No. 7 Tahun 2020, peran Pamong Budaya menjadi sangat krusial dalam menghidupkan ekosistem ini.

Ketua Pamong Budhaya Bogor, Bambang Sumantri, S.Sos., menyatakan bahwa proyek ini harus berakar pada sejarah Bogor, khususnya sejarah Kerajaan Muara Beres.

  • Visi Sejarah: Muara Beres merupakan jejak peradaban trah Sri Baduga Maharaja di tepian Sungai Ciliwung.
  • Strategi Masa Depan: Menghubungkan sejarah masa lalu dengan kreativitas modern untuk kesejahteraan masyarakat.

​”Jika Creative Center Hub Siliwangi mampu menghubungkan sejarah dengan kreativitas modern, kita tidak hanya membangun gedung, tetapi membangun peradaban,” ujar pria yang akrab disapa Kang Sumantri tersebut.

​Pembangunan Creative Center Hub Siliwangi kini berada di persimpangan jalan. Keberhasilannya tidak diukur dari ketebalan dinding beton, melainkan dari:

  • Transparansi pengelolaan anggaran dan bebas konflik kepentingan.
  • Keberlanjutan program yang memberdayakan komunitas lokal.
  • Integritas dalam menjaga nilai sejarah dan budaya sebagai ruh bangunan.

​Publik kini menunggu bukti nyata: apakah pusat kreatif ini akan menjadi penggerak ekonomi rakyat, atau sekadar panggung kosong yang kehilangan makna?

(CP/red)