BEKASI, JARINGANNASIONAL.COM – Ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, terancam gagal berproduksi optimal pada musim kemarau tahun ini. Masalah penumpukan sedimentasi dan maraknya ratusan bangunan liar (bangli) di sepanjang bantaran Saluran Sekunder (SS) Balong Tua menjadi pemicu utama tersumbatnya distribusi air irigasi ke hilir persawahan.
Guna mengantisipasi krisis pangan di tingkat lokal, Pemerintah Kabupaten Bekasi bergerak cepat menggandeng Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Kedua instansi ini tengah menyiapkan langkah percepatan normalisasi saluran irigasi untuk menyelamatkan sedikitnya 1.500 hektare sawah yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Sukatani, Tambelang, dan Sukawangi.
Hal tersebut ditegaskan oleh Plt Bupati Bekasi, dr. Asep Surya Atmaja, usai melakukan peninjauan langsung ke lokasi sumbatan di SS Balongtua yang melintasi Desa Sukamulya (Kecamatan Sukatani) dan Desa Sukawijaya (Kecamatan Tambelang) pada Jumat (19/6).
”Gangguan aliran air saat ini telah berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian masyarakat. Bahkan, sebagian lahan terancam tidak dapat ditanami sama sekali apabila pasokan air terus berkurang,” ujar dr. Asep Surya Atmaja di sela-sela peninjauannya.
Menurut dr. Asep, kondisi pendangkalan saluran dan penyempitan badan sungai akibat bangunan liar tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Jika terus diabaikan, dampaknya akan langsung memukul sektor ketahanan pangan daerah yang selama ini ditopang oleh wilayah Bekasi bagian utara dan tengah. Air yang seharusnya mengalir lancar kini tertahan akibat menyusutnya kapasitas tampung sungai.
Ancaman di Balik Sabuk Hijau Bekasi
Kabupaten Bekasi selama ini sering kali diidentikkan dengan kawasan industri terbesar di Asia Tenggara. Namun, di balik riuhnya mesin pabrik, wilayah utara dan tengah Bekasi—seperti Sukatani, Tambelang, dan Sukawangi—merupakan sabuk hijau vital yang berfungsi sebagai lumbung padi penopang kebutuhan pangan masyarakat.
Ancaman kemarau tahun ini membawa tantangan ganda bagi pertanian Bekasi. Selain faktor alam berupa sedimentasi lumpur tahunan yang masif, faktor sosial berupa menjamurnya ratusan bangunan liar di sepanjang bantaran turut memperparah keadaan. Keberadaan bangunan tersebut tidak hanya mempersempit ruang badan air, tetapi juga menyulitkan akses alat berat seperti ekskavator untuk melakukan pengerukan darurat.
Peninjauan lapangan ini juga dihadiri oleh pihak kecamatan setempat guna mengoordinasikan langkah sosialisasi dan penataan kembali kawasan bantaran sungai.
Pemkab Bekasi berharap sinergi dengan BBWS ini dapat segera dieksekusi sebelum puncak musim kemarau melanda secara ekstrem.
Menyelamatkan 1.500 hektare sawah dinilai bukan sekadar menyelamatkan komoditas padi, melainkan mempertahankan hajat hidup serta daya beli ribuan petani lokal agar tetap mampu bangkit, maju, dan sejahtera di tengah fluktuasi iklim global. (Red/JN)*Humas













