Jaringannsional.com – Kota Bekasi.
Siang itu, suasana di sekitar Lapangan Pondok Gede, Kecamatan Pondok Ged
Siang itu, suasana di sekitar Lapangan Pondok Gede, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, berjalan seperti biasa. Namun, di tengah aktivitas masyarakat, perhatian Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kelurahan Jatiwaringin, Reni Rahmawati dan Kamelia, tertuju kepada seorang lansia yang terlihat terlantar dan berada dalam kondisi memprihatinkan.
Kondisi lansia tersebut bukan hanya menggugah rasa iba, tetapi juga menjadi panggilan kemanusiaan bagi keduanya. Tubuh yang tampak tidak terurus dan keadaan yang membutuhkan pertolongan membuat Reni dan Kamelia tidak memilih untuk sekadar melihat atau berlalu begitu saja.
Sebagai Pekerja Sosial Masyarakat, keduanya kemudian mengambil langkah cepat. PSM Jatiwaringin menghubungi pihak Puskesmas untuk meminta bantuan dalam proses evakuasi. Upaya tersebut dilakukan agar lansia yang ditemukan dapat segera mendapatkan penanganan dan tempat yang lebih layak.
Proses evakuasi kemudian dilakukan menuju Pendopo Kecamatan Pondok Gede.
Dalam penanganan tersebut, PSM Jatiwaringin juga mendapat dukungan dari Endang Megawati, S.Kep. yang turut membantu memberikan perhatian terhadap kondisi lansia tersebut.
Sesampainya di Pendopo Kecamatan Pondok Gede, kondisi lansia yang sangat tidak terurus membuat proses penanganan tidak berhenti pada sekadar evakuasi. Lansia tersebut kemudian dibersihkan dan dirapikan agar kondisinya menjadi lebih baik sebelum melanjutkan perjalanan menuju rumah singgah.
Bagi sebagian orang, membersihkan seseorang dalam kondisi seperti itu mungkin merupakan pekerjaan yang berat dan tidak mudah. Namun bagi pekerja sosial, kondisi tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.
Tidak ada pekerjaan sosial yang selalu mudah. Ada kalanya seorang pekerja sosial harus berhadapan dengan kondisi yang tidak nyaman, situasi yang tidak terduga, bahkan harus mengesampingkan rasa jijik, lelah, dan kepentingan pribadi demi memastikan seseorang yang membutuhkan pertolongan dapat memperoleh perlakuan yang manusiawi.
Setelah mendapatkan penanganan awal, perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan mobil ambulans menuju Rumah Singgah Pedurenan, Bantar Gebang.
Namun, perjalanan tersebut kembali memberikan ujian tersendiri bagi Reni, Kamelia, dan pihak yang mendampingi lansia tersebut.
Di dalam mobil ambulans, lansia terlantar tersebut buang air besar dan buang air kecil. Situasi itu tentu bukan perkara sederhana bagi siapa pun yang berada di dalam kendaraan. Bau, kondisi tubuh, serta situasi yang tidak terduga menjadi tantangan yang harus dihadapi secara langsung.
Tetapi, justru di situlah makna sesungguhnya dari sebuah pengabdian sosial terlihat.
Reni Rahmawati dan Kamelia tidak kemudian meninggalkan lansia tersebut. Mereka tetap mendampingi, menghadapi kondisi tersebut dengan kesabaran, dan berusaha memastikan perjalanan menuju rumah singgah tetap dapat dilanjutkan.
Apa yang terjadi di dalam ambulans menjadi sebuah gambaran kecil tentang beratnya tugas seorang pekerja sosial masyarakat. Di mata masyarakat, pekerjaan mereka mungkin terlihat sederhana—menolong, mendampingi, mengantar, atau membantu warga yang membutuhkan.
Namun di balik itu semua terdapat kesabaran yang besar.
Seorang pekerja sosial tidak hanya dituntut memiliki kepedulian, tetapi juga harus memiliki ketahanan mental, kesabaran, empati, serta kesiapan menghadapi berbagai karakter dan kondisi warga yang ditangani.
Peristiwa tersebut sekaligus menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan terkadang diuji bukan ketika seseorang memberikan bantuan dalam kondisi yang mudah, melainkan ketika pertolongan tersebut mulai terasa berat dan tidak nyaman.
Ketika seseorang membutuhkan pertolongan, seorang pekerja sosial tidak boleh hanya hadir pada saat keadaan terlihat baik. Justru ketika kondisi paling sulit, keberadaan mereka menjadi sangat berarti.
Reni Rahmawati dan Kamelia telah memberikan contoh bahwa pekerjaan sosial bukan sekadar sebuah aktivitas, melainkan bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Mereka hadir ketika seorang lansia berada dalam kondisi terlantar.
Mereka menghubungi pihak kesehatan untuk mendapatkan bantuan. Mereka membawa lansia tersebut ke tempat yang lebih aman, membantu membersihkan dan merawatnya, kemudian kembali mendampingi dalam perjalanan menuju rumah singgah.
Bahkan ketika muncul situasi yang tidak nyaman di dalam ambulans, mereka tetap bertahan.
Inilah wajah lain dari pekerjaan sosial yang jarang terlihat.
Di balik pakaian dan aktivitas seorang pekerja sosial, ada tangan yang harus siap membantu membersihkan, ada kaki yang harus terus melangkah, ada hati yang harus tetap sabar, dan ada kepedulian yang tidak boleh berhenti hanya karena keadaan menjadi sulit.
Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa persoalan warga terlantar bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Dibutuhkan kepedulian masyarakat, PSM, tenaga kesehatan, pemerintah kelurahan dan kecamatan, serta instansi terkait agar warga yang berada dalam kondisi rentan mendapatkan perlindungan dan tempat yang layak.
Apa yang dilakukan PSM Kelurahan Jatiwaringin bersama pihak-pihak yang membantu menjadi bagian kecil dari kerja kemanusiaan yang memiliki arti besar.
Sebab terkadang, bagi orang yang sedang terlantar, pertolongan paling berarti bukanlah sesuatu yang mahal, melainkan seseorang yang bersedia berhenti, mendekat, mengulurkan tangan, dan berkata: “Kami akan membantu.”
Dan siang itu, di tengah kesibukan kawasan Pondok Gede, Reni Rahmawati dan Kamelia memilih untuk berhenti sejenak demi seorang manusia yang membutuhkan pertolongan.
Sebuah ujian kesabaran di dalam ambulans mungkin hanya berlangsung sesaat, tetapi ketulusan untuk tetap membantu adalah nilai kemanusiaan yang jauh lebih panjang maknanya.
Menjadi pekerja sosial bukan tentang seberapa nyaman pekerjaan yang dijalankan, tetapi seberapa tulus seseorang tetap hadir ketika orang lain berada dalam keadaan paling membutuhkan.
masyarakat, perhatian Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kelurahan Jatiwaringin, Reni Rahmawati dan Kamelia, tertuju kepada seorang lansia yang terlihat terlantar dan berada dalam kondisi memprihatinkan.
Kondisi lansia tersebut bukan hanya menggugah rasa iba, tetapi juga menjadi panggilan kemanusiaan bagi keduanya. Tubuh yang tampak tidak terurus dan keadaan yang membutuhkan pertolongan membuat Reni dan Kamelia tidak memilih untuk sekadar melihat atau berlalu begitu saja.
Sebagai Pekerja Sosial Masyarakat, keduanya kemudian mengambil langkah cepat. PSM Jatiwaringin menghubungi pihak Puskesmas untuk meminta bantuan dalam proses evakuasi.
Upaya tersebut dilakukan agar lansia yang ditemukan dapat segera mendapatkan penanganan dan tempat yang lebih layak.
Proses evakuasi kemudian dilakukan menuju Pendopo Kecamatan Pondok Gede.
Dalam penanganan tersebut, PSM Jatiwaringin juga mendapat dukungan dari Endang Megawati, S.Kep. yang turut membantu memberikan perhatian terhadap kondisi lansia tersebut.
Sesampainya di Pendopo Kecamatan Pondok Gede, kondisi lansia yang sangat tidak terurus membuat proses penanganan tidak berhenti pada sekadar evakuasi. Lansia tersebut kemudian dibersihkan dan dirapikan agar kondisinya menjadi lebih baik sebelum melanjutkan perjalanan menuju rumah singgah.
Bagi sebagian orang, membersihkan seseorang dalam kondisi seperti itu mungkin merupakan pekerjaan yang berat dan tidak mudah. Namun bagi pekerja sosial, kondisi tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.
Tidak ada pekerjaan sosial yang selalu mudah. Ada kalanya seorang pekerja sosial harus berhadapan dengan kondisi yang tidak nyaman, situasi yang tidak terduga, bahkan harus mengesampingkan rasa jijik, lelah, dan kepentingan pribadi demi memastikan seseorang yang membutuhkan pertolongan dapat memperoleh perlakuan yang manusiawi.
Setelah mendapatkan penanganan awal, perjalanan kemudian dilanjutkan menggunakan mobil ambulans menuju Rumah Singgah Pedurenan, Bantar Gebang.
Namun, perjalanan tersebut kembali memberikan ujian tersendiri bagi Reni, Kamelia, dan pihak yang mendampingi lansia tersebut.
Di dalam mobil ambulans, lansia terlantar tersebut buang air besar dan buang air kecil. Situasi itu tentu bukan perkara sederhana bagi siapa pun yang berada di dalam kendaraan. Bau, kondisi tubuh, serta situasi yang tidak terduga menjadi tantangan yang harus dihadapi secara langsung.
Tetapi, justru di situlah makna sesungguhnya dari sebuah pengabdian sosial terlihat.
Reni Rahmawati dan Kamelia tidak kemudian meninggalkan lansia tersebut. Mereka tetap mendampingi, menghadapi kondisi tersebut dengan kesabaran, dan berusaha memastikan perjalanan menuju rumah singgah tetap dapat dilanjutkan.
Apa yang terjadi di dalam ambulans menjadi sebuah gambaran kecil tentang beratnya tugas seorang pekerja sosial masyarakat. Di mata masyarakat, pekerjaan mereka mungkin terlihat sederhana—menolong, mendampingi, mengantar, atau membantu warga yang membutuhkan.
Namun di balik itu semua terdapat kesabaran yang besar.
Seorang pekerja sosial tidak hanya dituntut memiliki kepedulian, tetapi juga harus memiliki ketahanan mental, kesabaran, empati, serta kesiapan menghadapi berbagai karakter dan kondisi warga yang ditangani.
Peristiwa tersebut sekaligus menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan terkadang diuji bukan ketika seseorang memberikan bantuan dalam kondisi yang mudah, melainkan ketika pertolongan tersebut mulai terasa berat dan tidak nyaman.
Ketika seseorang membutuhkan pertolongan, seorang pekerja sosial tidak boleh hanya hadir pada saat keadaan terlihat baik. Justru ketika kondisi paling sulit, keberadaan mereka menjadi sangat berarti.
Reni Rahmawati dan Kamelia telah memberikan contoh bahwa pekerjaan sosial bukan sekadar sebuah aktivitas, melainkan bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Mereka hadir ketika seorang lansia berada dalam kondisi terlantar.
Mereka menghubungi pihak kesehatan untuk mendapatkan bantuan. Mereka membawa lansia tersebut ke tempat yang lebih aman, membantu membersihkan dan merawatnya, kemudian kembali mendampingi dalam perjalanan menuju rumah singgah.
Bahkan ketika muncul situasi yang tidak nyaman di dalam ambulans, mereka tetap bertahan.
Inilah wajah lain dari pekerjaan sosial yang jarang terlihat.
Di balik pakaian dan aktivitas seorang pekerja sosial, ada tangan yang harus siap membantu membersihkan, ada kaki yang harus terus melangkah, ada hati yang harus tetap sabar, dan ada kepedulian yang tidak boleh berhenti hanya karena keadaan menjadi sulit.
Kisah ini juga menjadi pengingat bahwa persoalan warga terlantar bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Dibutuhkan kepedulian masyarakat, PSM, tenaga kesehatan, pemerintah kelurahan dan kecamatan, serta instansi terkait agar warga yang berada dalam kondisi rentan mendapatkan perlindungan dan tempat yang layak.
Apa yang dilakukan PSM Kelurahan Jatiwaringin bersama pihak-pihak yang membantu menjadi bagian kecil dari kerja kemanusiaan yang memiliki arti besar.
Sebab terkadang, bagi orang yang sedang terlantar, pertolongan paling berarti bukanlah sesuatu yang mahal, melainkan seseorang yang bersedia berhenti, mendekat, mengulurkan tangan, dan berkata: “Kami akan membantu.”
Dan siang itu, di tengah kesibukan kawasan Pondok Gede, Reni Rahmawati dan Kamelia memilih untuk berhenti sejenak demi seorang manusia yang membutuhkan pertolongan.
Sebuah ujian kesabaran di dalam ambulans mungkin hanya berlangsung sesaat, tetapi ketulusan untuk tetap membantu adalah nilai kemanusiaan yang jauh lebih panjang maknanya.
Menjadi pekerja sosial bukan tentang seberapa nyaman pekerjaan yang dijalankan, tetapi seberapa tulus seseorang tetap hadir ketika orang lain berada dalam keadaan paling membutuhkan.
Yusup Bahtiar / PSM Jatiwaringin.












