Opini oleh: Dr. Mirna Ari Mulyani Munir, M.Pd.
Jaringannasional.com – Memilih teman sering kali dianggap sebagai persoalan sederhana dalam kehidupan mahasiswa. Padahal, pilihan itu jauh lebih menentukan daripada yang kita sadari. Lingkungan pertemanan dapat membentuk karakter, kebiasaan, cara berpikir, keberanian mengambil peluang, bahkan kesiapan seseorang menghadapi dunia kerja.
Bagi mahasiswa Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi, persoalan ini menjadi semakin penting. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan lulusan yang memiliki ijazah dan kemampuan akademik, tetapi juga pribadi yang mampu berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, menyelesaikan persoalan, menjaga kepercayaan, serta memegang teguh integritas.
Dengan kata lain, kesiapan kerja tidak dimulai ketika seseorang mengirimkan lamaran pekerjaan. Kesiapan itu dibangun jauh sebelumnya, bahkan sejak seseorang masih duduk di bangku kuliah.
Salah satu ruang paling awal untuk membangunnya adalah lingkungan pertemanan. Di sanalah mahasiswa belajar memilih pengaruh, menguji karakter, dan membentuk kebiasaan yang kelak menentukan kualitas profesionalnya.
Pertemanan sebagai Laboratorium Sosial
Kampus bukan sekadar tempat memperoleh pengetahuan melalui ruang kuliah. Kampus juga merupakan ruang sosial tempat mahasiswa belajar berinteraksi, bernegosiasi, dan bertanggung jawab kepada orang lain.
Ketika mahasiswa mengerjakan tugas kelompok, mengikuti organisasi, terlibat dalam kegiatan dakwah, melakukan pengabdian kepada masyarakat, mengikuti program penyuluhan, atau menyelenggarakan kegiatan kemahasiswaan, sebenarnya mereka sedang berlatih menghadapi situasi yang memiliki banyak kemiripan dengan dunia kerja.
Di sana terdapat pembagian tugas, target, tenggat waktu, perbedaan pendapat, konflik kepentingan, tuntutan tanggung jawab, hingga evaluasi terhadap hasil kerja. Semua itu bukan sekadar aktivitas tambahan, melainkan laboratorium sosial untuk membentuk kompetensi.
Mahasiswa belajar menyampaikan gagasan tanpa merendahkan orang lain, mendengarkan pendapat yang berbeda, menerima kritik, memimpin sekaligus dipimpin, serta menyelesaikan persoalan tanpa menghindari tanggung jawab.
Kompetensi semacam ini tidak selalu diperoleh dari buku atau materi perkuliahan. Banyak di antaranya justru tumbuh melalui pengalaman dan interaksi sehari-hari. Karena itu, pertemanan seharusnya tidak hanya dicari karena memberikan kenyamanan, tetapi juga karena mampu menghadirkan ruang pertumbuhan.
Teman yang disiplin dapat mengajarkan pentingnya menghargai waktu. Teman yang aktif berorganisasi dapat membuka pengalaman baru. Teman yang memiliki kemampuan komunikasi dapat menjadi sumber pembelajaran. Teman yang berani mencoba dapat mendorong seseorang keluar dari zona nyaman.
Sementara itu, teman yang memiliki integritas dapat menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak seharusnya dicapai dengan mengorbankan nilai dan prinsip.
Di sinilah kita perlu jujur kepada diri sendiri: apakah lingkaran pertemanan kita sedang menguatkan masa depan, atau justru menormalisasi kemalasan, penundaan, dan sikap tidak bertanggung jawab?
Jejaring Tidak Dibangun dalam Semalam
Selain kompetensi, ada satu modal penting yang sering kali terlupakan ketika berbicara tentang kesiapan kerja, yakni jejaring.
Dunia profesional membutuhkan jaringan. Namun, jejaring bukan sekadar mengumpulkan nomor telepon, mengikuti banyak akun media sosial, atau mengenal sebanyak mungkin orang. Jejaring yang kuat dibangun melalui hubungan yang sehat dan kepercayaan.
Kepercayaan tidak lahir dari perkenalan singkat. Kepercayaan tumbuh melalui sikap dan konsistensi. Seseorang dipercaya karena mampu menunjukkan tanggung jawab, menjaga komunikasi, menghormati orang lain, dan membuktikan bahwa dirinya dapat diandalkan.
Karena itu, teman kuliah hari ini sangat mungkin menjadi rekan kerja di masa depan. Teman organisasi dapat menjadi mitra kegiatan. Alumni dapat menjadi jembatan informasi dan pengalaman. Dosen dapat menjadi sumber arahan. Komunitas dapat membuka kesempatan untuk belajar dan berkarya.
Namun, hubungan tersebut hanya akan menjadi modal sosial yang berharga apabila dibangun dengan ketulusan, profesionalitas, dan sikap saling menghargai.
Jangan membangun relasi hanya karena berharap mendapatkan keuntungan. Bangunlah hubungan karena ada kemauan untuk saling belajar, bertumbuh, dan memberikan manfaat. Relasi yang sehat bukan tentang siapa yang paling banyak dikenal, melainkan siapa yang tetap dapat dipercaya ketika kesempatan dan tanggung jawab datang.
BPI dan Tantangan Dunia Kerja
Mahasiswa BPI memiliki karakter keilmuan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia dan masyarakat.
Ruang pengabdian lulusan BPI dapat bersentuhan dengan bidang bimbingan, penyuluhan, pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, pelayanan sosial, pengembangan sumber daya manusia, komunikasi, dan berbagai bidang lain yang membutuhkan kemampuan berinteraksi serta mendampingi manusia.
Karena itu, mahasiswa BPI tidak cukup hanya menguasai teori. Mereka juga perlu memiliki kemampuan komunikasi, kecakapan sosial, kematangan pribadi, kemampuan beradaptasi, serta pemahaman terhadap etika profesi.
Seorang calon praktisi bimbingan dan penyuluhan, misalnya, harus mampu mendengar sebelum berbicara dan memahami sebelum memberikan penilaian.
Ia harus mampu berkomunikasi tanpa merendahkan, menjaga kepercayaan, menghormati batas profesional, bekerja sama dengan berbagai pihak, serta menghadapi karakter manusia yang beragam.
Di sinilah nilai-nilai yang dipelajari dalam BPI menemukan relevansinya dengan kesiapan kerja. Ilmu BPI tidak boleh berhenti sebagai teori yang tersimpan dalam catatan kuliah. Ilmu itu harus menjelma menjadi sikap, keterampilan, dan keberanian untuk hadir di tengah persoalan manusia.
Profesionalitas tidak hanya berbicara mengenai kemampuan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjalankan pekerjaannya dengan etika dan tanggung jawab.
Bagi mahasiswa BPI, kompetensi dan nilai seharusnya berjalan beriringan. Kemampuan tanpa integritas dapat kehilangan arah, sedangkan niat baik tanpa kompetensi dapat kehilangan daya guna.
Jangan Menunggu Lulus untuk Belajar Profesional
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menganggap dunia kerja sebagai sesuatu yang baru dimulai setelah wisuda.
Padahal, dunia kerja sebenarnya sudah dapat “disimulasikan” sejak mahasiswa berada di kampus. Setiap tugas, organisasi, kegiatan sosial, dan interaksi dengan orang lain merupakan kesempatan untuk membangun reputasi diri.
Datang tepat waktu adalah latihan profesionalitas.
Menyelesaikan tugas sesuai tenggat adalah latihan tanggung jawab.
Bekerja dalam kelompok adalah latihan kolaborasi.
Berani menyampaikan pendapat adalah latihan komunikasi.
Menerima kritik adalah latihan kedewasaan.
Mengakui kesalahan adalah latihan integritas.
Mengikuti organisasi dan kegiatan sosial adalah latihan kepemimpinan sekaligus pengalaman lapangan.
Bahkan, kemampuan menggunakan teknologi, membuat portofolio, menulis, berbicara di depan umum, dan membangun jejaring merupakan investasi yang semakin penting dalam menghadapi dunia kerja.
Karena itu, mahasiswa tidak seharusnya menunggu semester akhir untuk mulai bertanya, “Setelah lulus, saya mau bekerja di mana?”
Pertanyaan yang lebih penting justru, “Apa yang sudah saya siapkan untuk menghadapi dunia kerja?”
Sebab, dunia kerja tidak hanya menilai apa yang tertulis di ijazah. Dunia kerja juga menilai kebiasaan, pengalaman, kemampuan bekerja sama, cara menyelesaikan masalah, dan bukti nyata bahwa seseorang mampu dipercaya.
Teman yang Membuat Nyaman atau Membuat Berkembang?
Ada teman yang membuat kita nyaman. Ada pula teman yang membuat kita berkembang.
Keduanya tidak selalu sama.
Teman yang mendorong kita mengikuti seminar, mencoba organisasi, melakukan penelitian, mengikuti kompetisi, belajar teknologi, membangun jejaring, atau terlibat dalam kegiatan sosial mungkin pada awalnya terasa merepotkan.
Namun, justru pengalaman semacam itulah yang sering kali memperkaya kompetensi. Pertumbuhan memang tidak selalu terasa nyaman. Kadang-kadang ia hadir dalam bentuk tantangan, kritik, tuntutan, bahkan kegagalan.
Dunia kerja membutuhkan orang yang mau belajar, bukan hanya orang yang merasa sudah tahu.
Karena itu, mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk berada di lingkungan yang mendorong pertumbuhan.
Berani mengatakan, “Saya mau mencoba.”
Berani mengatakan, “Saya mau belajar.”
Berani menerima kritik.
Berani mengakui kekurangan.
Dan yang paling penting, berani bertanggung jawab terhadap pilihan dan pekerjaan yang dilakukan.
Jangan takut kehilangan kenyamanan jika yang dipertaruhkan adalah masa depan. Pertemanan yang baik bukan hanya yang hadir ketika kita bersenang-senang, tetapi juga yang berani mengingatkan ketika kita mulai menjauh dari tujuan.
Dari Pertemanan Menuju Profesionalitas
Jika perjalanan tersebut diringkas, ada sebuah mata rantai yang menarik untuk direnungkan:
Pertemanan sehat → lingkungan positif → kebiasaan produktif → karakter → kompetensi → pengalaman → jejaring → profesionalitas → kesiapan kerja.
Mata rantai tersebut menunjukkan bahwa kesiapan kerja tidak lahir secara instan.
Kesiapan itu dibentuk dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Karakter seseorang terlihat dari bagaimana ia menjalankan tanggung jawab. Kompetensi berkembang melalui proses belajar dan pengalaman. Jejaring tumbuh melalui hubungan yang sehat. Sementara itu, profesionalitas lahir dari perpaduan antara kemampuan, pengalaman, sikap, dan integritas.
Pada akhirnya, semua itu bermuara pada satu hal: kesiapan untuk memberikan kontribusi.
Maka, jangan meremehkan tugas kecil, pertemuan sederhana, atau pengalaman organisasi yang tampak biasa. Bisa jadi, dari sanalah kualitas profesional seseorang sedang dibentuk.
Bekerja Bukan Sekadar Mendapatkan Penghasilan
Bagi mahasiswa BPI, kesiapan kerja seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mendapatkan pekerjaan.
Pekerjaan memang penting. Penghasilan juga penting. Karier merupakan bagian dari kehidupan yang harus direncanakan.
Namun, ada dimensi lain yang tidak kalah penting, yakni pengabdian dan kemaslahatan.
Ilmu yang diperoleh di Fakultas Dakwah dan Komunikasi idealnya tidak berhenti sebagai pengetahuan pribadi. Ilmu tersebut harus dapat diterjemahkan menjadi kemampuan untuk hadir di tengah masyarakat, membantu menyelesaikan persoalan, mendampingi, memberikan pelayanan, dan menciptakan manfaat.
Karena itu, perjalanan mahasiswa BPI dapat dipandang sebagai proses:
Belajar → Berlatih → Berkarya → Berkompeten → Bekerja → Melayani → Memberi Dampak.
Dari ruang kelas menuju ruang masyarakat.
Dari teori menuju praktik.
Dari mahasiswa menuju profesional.
Dari kompetensi menuju pengabdian.
Dan dari pekerjaan menuju kemaslahatan.
Inilah alasan mengapa kesiapan kerja bagi mahasiswa BPI tidak boleh diukur hanya dari seberapa cepat seseorang memperoleh pekerjaan. Ukuran yang lebih mendasar adalah seberapa besar ilmu, kompetensi, dan profesinya mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Pertanyaan yang Perlu Dijawab Mahasiswa
Pada akhirnya, setiap mahasiswa perlu melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri.
Apakah lingkungan pertemanan yang saya pilih mendorong saya untuk berkembang?
Apakah saya memiliki teman yang mengingatkan ketika saya mulai kehilangan arah?
Kompetensi apa yang sudah saya miliki?
Kompetensi apa yang masih harus saya tingkatkan?
Pengalaman apa yang dapat saya tawarkan kepada dunia kerja?
Apakah saya sudah memiliki portofolio?
Apakah saya sudah mampu bekerja dalam tim?
Apakah saya mampu menerima kritik?
Apakah saya mampu menjaga kepercayaan?
Dan pertanyaan yang paling penting: Jika saya lulus hari ini, apa yang benar-benar dapat saya tawarkan kepada dunia kerja dan masyarakat?
Pertanyaan tersebut bukan untuk menakut-nakuti mahasiswa. Justru sebaliknya, pertanyaan itu merupakan pengingat bahwa masa kuliah adalah kesempatan untuk mempersiapkan diri.
Jangan menunggu wisuda untuk belajar profesional.
Jangan menunggu diterima bekerja untuk belajar bertanggung jawab.
Jangan menunggu kesempatan datang untuk mulai membangun kompetensi.
Mulailah dari sekarang: dari pertemanan, kebiasaan, tugas-tugas sederhana, organisasi, kegiatan sosial, pengalaman lapangan, dan kemauan untuk terus belajar.
Sebab, teman yang tepat dapat membentuk lingkungan yang tepat. Lingkungan yang tepat dapat melahirkan kebiasaan produktif. Kebiasaan produktif dapat membentuk karakter. Karakter yang kuat akan memperkuat profesionalitas.
Pada akhirnya, BPI bukan sekadar menyiapkan mahasiswa untuk memperoleh gelar dan menyelesaikan pendidikan.
BPI seharusnya menyiapkan insan yang siap belajar, siap bekerja, siap melayani, dan siap memberi dampak.
Karena itu, jangan menunggu dunia kerja menguji kesiapan kita. Ujilah diri sendiri mulai hari ini. Pilih lingkungan yang menguatkan, bangun kebiasaan yang mendewasakan, kembangkan kompetensi, jaga integritas, dan beranilah mengambil peran.
Dari kampus menuju dunia kerja.
Dari kompetensi menuju profesionalitas.
Dari profesionalitas menuju pengabdian.
Dan dari pengabdian menuju kemaslahatan bagi masyarakat.
Masa depan tidak dibentuk oleh niat yang terus ditunda, melainkan oleh langkah yang dimulai sekarang.












