PRABOWO SUBIANTO DIMATA EMAK-EMAK DULU DAN SEKARANG

Benz Jono Hartono
Praktisi Media Massa
Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat
Executive Director HIAWATHA Institute

Jaringannasional.com.

Di tengah dinamika politik nasional yang terus bergerak cepat, suara emak-emak tetap menjadi salah satu kekuatan sosial paling nyata dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Dari pasar tradisional, majelis taklim, ruang keluarga, hingga komunitas sosial perkotaan, emak-emak memiliki naluri politik yang tajam terhadap masa depan bangsa dan negara.

Salah satu komunitas emak-emak yang cukup konsisten mengawal isu kebangsaan dan perjuangan melawan islamophobia adalah komunitas yang menamakan dirinya ASPIRASI — Menebar Cahaya Illahi Rabbi Berbasis Tauhid. Komunitas ini dikenal aktif membangun gerakan moral, sosial, dan kebangsaan yang berorientasi pada penguatan nilai-nilai Tauhid, persatuan bangsa, serta perlindungan martabat umat Islam di Indonesia.

Gerakan emak-emak ini dikomandani oleh sosok perempuan yang dikenal luas sebagai The Warrior Princes Combat To Phobia Islam, yaitu Usahawati binti Salam Siswapi. Ia merupakan putri dari almarhum Salam Siswapi, seorang pejuang Murba yang dikenal sebagai orang kepercayaan almarhum Adam Malik pada masa Partai Murba berjaya dalam sejarah politik nasional.

Bagi komunitas ASPIRASI, sosok Prabowo Subianto bukanlah figur yang baru didukung kemarin sore. Sejak Pemilu Presiden tahun 2014, komunitas emak-emak yang dipimpin Usahawati telah menjadi pendukung militan dan konsisten dalam mengawal perjalanan politik Prabowo menuju kursi kepresidenan. Mereka melihat Prabowo sebagai figur nasionalis yang memiliki keberanian, ketegasan, serta komitmen terhadap kedaulatan bangsa Indonesia.

Namun perjalanan waktu menghadirkan perubahan cara pandang. Jika dahulu dukungan diberikan dengan semangat perjuangan memenangkan kekuasaan, maka sekarang harapan emak-emak lebih diarahkan pada bagaimana kekuasaan itu digunakan untuk memperhatikan suara rakyat kecil, khususnya kaum ibu dan masa depan generasi bangsa.

Menurut komunitas ASPIRASI, tantangan bangsa saat ini tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut krisis moral, ancaman budaya global, melemahnya ketahanan keluarga, hingga meningkatnya berbagai bentuk islamophobia yang dianggap mengganggu harmoni kehidupan umat beragama di Indonesia.

Karena itu, komunitas ASPIRASI berharap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mampu membuka ruang komunikasi yang lebih luas terhadap aspirasi emak-emak sebagai fondasi sosial bangsa. Mereka percaya bahwa perempuan, terutama para ibu, adalah benteng pertama pendidikan karakter generasi Indonesia.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap arah kepemimpinan nasional, komunitas ASPIRASI yang dipimpin Usahawati pada hari Jumat, 8 Mei 2026 mengadakan kegiatan Bedah Kajian Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang berlangsung dari pukul 13.00 hingga 17.00 WIB di Markas ASPIRASI, Jalan Pati No. 26, Menteng, Jakarta Pusat.

Forum tersebut menjadi ruang diskusi, evaluasi, sekaligus penyampaian harapan emak-emak terhadap pemerintahan Prabowo di masa depan. Mereka ingin agar suara kaum ibu tidak hanya didengar saat momentum pemilu, tetapi juga benar-benar menjadi bagian penting dalam proses pembangunan bangsa dan negara.

Bagi emak-emak ASPIRASI, Indonesia yang kuat bukan hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau kekuatan politik semata, tetapi juga dari kemampuan negara menjaga nilai moral, keadilan sosial, persatuan nasional, dan perlindungan terhadap martabat rakyatnya.

Dan di mata emak-emak, seorang pemimpin besar adalah pemimpin yang tetap mau mendengar suara hati rakyat kecil, termasuk suara para ibu yang selama ini diam-diam menjadi tiang penyangga Republik Indonesia.

Benz Jono Hartono
Praktisi Media Massa
Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat
Executive Director HIAWATHA Institute di Jakarta