Jaringannasional.com — Sukabumi.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, kembali menjadi sorotan publik.
Alih-alih mendapat apresiasi, pelaksanaan program tersebut di salah satu wilayah Kabupaten Sukabumi justru memicu kontroversi setelah menu yang diberikan kepada balita dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan usia mereka.
Perhatian masyarakat tertuju pada paket makanan yang disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Khartini Bakti Negeri di wilayah Parakansalak.
Dalam menu yang dibagikan kepada penerima manfaat, terdapat sambal serta buah apel dengan rasa asam dan tekstur kesat. Kombinasi ini memicu pertanyaan dari warga yang menilai menu tersebut kurang ramah bagi anak usia balita.
Sejumlah warga menyampaikan kritik melalui media sosial dan percakapan daring. Mereka mempertanyakan relevansi pemberian sambal kepada anak kecil yang seharusnya mendapatkan makanan lembut, mudah dicerna, serta tidak mengandung rasa terlalu tajam.
Selain itu, buah apel dengan rasa asam dan tekstur kesat juga dinilai kurang tepat, karena berpotensi membuat balita kesulitan mengonsumsi atau bahkan menolak makanan tersebut.
Menurut sebagian masyarakat, program yang seharusnya menjadi solusi pemenuhan gizi justru berpotensi tidak efektif apabila menu yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak.
Mereka berharap pihak pelaksana lebih memperhatikan standar gizi dan karakteristik makanan yang dianjurkan untuk balita, seperti tekstur lembut, rasa netral, serta kandungan nutrisi seimbang.
Menanggapi hal tersebut, pihak ahli gizi yang terlibat dalam penyusunan menu menyampaikan bahwa keberadaan sambal dimaksudkan sebagai variasi menu.
Sambal yang diberikan disebut bukan sambal pedas, melainkan sambal kecap dengan jumlah cabai sangat sedikit. Namun demikian, ia mengakui bahwa keputusan tersebut kurang tepat jika diterapkan pada menu balita.
Pengakuan tersebut menjadi perhatian penting, karena menunjukkan adanya celah dalam perencanaan menu yang seharusnya melalui pertimbangan matang sesuai standar gizi anak.
Dalam praktiknya, balita membutuhkan makanan yang tidak hanya bergizi, tetapi juga aman, mudah dikonsumsi, serta sesuai tahap perkembangan kemampuan makan mereka.
Program MBG sendiri diharapkan mampu meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda sekaligus mengurangi angka stunting.
Oleh karena itu, implementasi di lapangan harus benar-benar memperhatikan aspek teknis, mulai dari pemilihan bahan, cara pengolahan, hingga penyajian. Evaluasi berkala juga dinilai penting agar tujuan program tidak melenceng dari sasaran awal.
Kontroversi ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan program gizi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan makanan, tetapi juga oleh kesesuaian menu dengan kebutuhan penerima manfaat.
Masyarakat pun berharap ke depan ada perbaikan sistem dan pengawasan yang lebih ketat, sehingga program Makan Bergizi Gratis benar-benar memberikan dampak positif bagi tumbuh kembang balita Berlokasi Desa Sukakersa kecamatan Parakansalak kabupaten Sukabumi.
Dede
