Jaringannasional.com – JENEWA, SWISS
Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Maritim Indonesia (FSPMI) Ujang Supriatin, tokoh serikat pekerja asal Sukabumi, Jawa Barat, terus mengikuti berbagai langkah strategis dalam forum ketenagakerjaan internasional pada International Labour Conference (ILC) Session 114 Tahun 2026 yang berlangsung di Gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Jenewa, Swiss.
Usai mengikuti rangkaian sidang pleno ILC, delegasi tripartit Indonesia yang terdiri dari unsur pemerintah, pekerja, dan pengusaha melanjutkan agenda silaturahmi dan ramah tamah pada 8 Juni 2026.
Kegiatan tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat komunikasi, membangun soliditas, serta mempererat kolaborasi dalam menghadapi berbagai tantangan ketenagakerjaan global yang tengah dibahas dalam forum Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).
Delegasi Indonesia yang hadir terdiri dari berbagai unsur, di antaranya 15 perwakilan Kementerian Ketenagakerjaan RI, 7 orang dari Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) Jenewa, 3 orang dari Kementerian Luar Negeri RI, 1 orang dari Kementerian PPN/Bappenas, 1 orang dari Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), 9 orang BPJS Ketenagakerjaan, 2 orang BPJS Kesehatan, serta delegasi pekerja dan pengusaha.
Acara dibuka oleh Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan RI, Indah Anggoro Putri, yang menegaskan pentingnya memperkuat sinergi tripartit Indonesia dalam menyikapi dinamika dunia kerja sekaligus memperkokoh posisi Indonesia di forum internasional.Dalam kesempatan tersebut, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh/Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB, WTO, dan Organisasi Internasional Lainnya di Jenewa, Sidarto R. Suryodipuro, menyampaikan apresiasi kepada seluruh delegasi Indonesia yang telah berpartisipasi aktif dalam ILC 2026.“Selamat datang di Jenewa.
Saya berharap seluruh delegasi dapat terus menjaga nama baik Indonesia, menunjukkan profesionalisme, serta memperkuat citra positif bangsa dalam berbagai forum internasional,” ujar Sidarto.
Ia juga menekankan bahwa komunikasi dan dialog sosial antara pemerintah, pekerja, dan pengusaha harus terus terjalin, tidak hanya selama forum berlangsung tetapi juga ketika kembali ke Indonesia.“Dialog sosial yang kuat menjadi kunci lahirnya kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan buruh sekaligus menciptakan hubungan industrial yang harmonis,” katanya.
Sementara itu, Ujang Supriatin, yang akrab disapa Abah Ujang Guru, menegaskan bahwa seluruh unsur tripartit harus terus menjaga kondusivitas iklim industri nasional.
Menurutnya, pekerja dan pengusaha merupakan mitra strategis yang memiliki tujuan yang sama, yakni memajukan perusahaan, meningkatkan produktivitas, dan mendorong kesejahteraan pekerja Indonesia.
“Pengusaha dan serikat pekerja bukan pihak yang saling berhadapan, melainkan mitra strategis yang harus berjalan bersama. Ketika perusahaan berkembang dan produktivitas meningkat, maka kesejahteraan pekerja pun akan ikut meningkat,” tegas Ujang.
Puncak kegiatan diisi arahan Menteri Ketenagakerjaan RI, Yassierli, yang mengajak seluruh unsur tripartit Indonesia untuk terus menjaga kebersamaan dan memperkuat kolaborasi dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompleks.“Kebersamaan tripartit harus terus dijaga.
Jika hubungan industrial berjalan harmonis, maka industri akan maju, investasi berkembang, dan pekerja akan semakin sejahtera. Semangat kolaborasi inilah yang harus terus kita bangun, baik di forum internasional maupun ketika kembali ke Indonesia,” ujar Menaker.
Mengusung semangat “Merah Putih di Dada, Indonesia di Hati”, kegiatan tersebut menjadi simbol kuat bahwa perbedaan peran antara pemerintah, pekerja, dan pengusaha tidak menjadi penghalang dalam membangun kerja sama demi mewujudkan pekerjaan yang layak, keadilan sosial, pertumbuhan industri yang berkelanjutan, serta peningkatan kesejahteraan pekerja Indonesia.
Dalam kesempatan itu, Ujang Supriatin juga menyoroti pentingnya investasi sebagai motor penggerak pembangunan nasional yang merata hingga ke daerah. Ia secara khusus mendorong percepatan pembangunan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terutama pada sektor maritim dan kawasan pesisir Pantai Selatan yang dinilai memiliki potensi besar namun masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah dan investor.
“Investasi yang tumbuh akan membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mempercepat pembangunan daerah.
Potensi maritim dan pesisir selatan Sukabumi harus menjadi bagian dari agenda pembangunan nasional yang berkelanjutan,” ujarnya.Menurut Ujang, kolaborasi tripartit harus mampu menjadi solusi nyata bagi berbagai persoalan ketenagakerjaan di Indonesia.
Pemerintah, pekerja, dan pengusaha memiliki peran yang sama pentingnya dalam menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan usaha dan peningkatan kesejahteraan pekerja.
“Ketika investasi berkembang, pekerja sejahtera, dan pemerintah mampu menghadirkan regulasi yang berkeadilan, maka hubungan industrial yang harmonis dan produktif akan menjadi kekuatan besar bagi kemajuan bangsa Indonesia,” pungkasnya.
Dede












