Bikin ASN Bekasi Sempat Panik, Ternyata Ini Penyebab Aplikasi BEeTRI Sulit Akses Jam Pulang

BEKASI | jaringannasional.com, 1 September 2026 — Digitalisasi absensi aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Bekasi menghadapi ujian teknis. Aplikasi BEeTRI yang baru berjalan sekitar satu bulan sempat mengalami kendala ketika banyak ASN melakukan presensi pulang secara bersamaan.

Gangguan tersebut terutama dirasakan ASN yang berada di sejumlah titik kegiatan dan ruang publik. Sebagian pegawai mengaku kesulitan mendapatkan jaringan ketika hendak melakukan check-out, sementara presensi pagi relatif berjalan normal.

Sekretaris BKPSDM Kota Bekasi Dra. Lusi Silawati, M.Si., saat memberikan tanggapan pada Selasa (1/9/2026) pukul 10.30 WIB, menjelaskan bahwa persoalan yang terjadi lebih berkaitan dengan kondisi jaringan dan tingginya trafik pengguna pada waktu yang hampir bersamaan.

Menurut Lusi, pada saat presensi pagi, pengguna aplikasi relatif tersebar sehingga sistem berjalan lebih lancar. Kondisi berbeda terjadi ketika jam pulang tiba. Banyak ASN melakukan check-out dalam waktu berdekatan sehingga terjadi lonjakan trafik di lokasi tertentu.

Presensi pagi relatif lancar. Kendala muncul terutama saat presensi pulang karena banyak pegawai melakukan check-out secara bersamaan,” ujar Lusi.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut semakin terasa di lokasi yang dipadati ASN, termasuk kawasan tempat berlangsungnya kegiatan. Sejumlah pegawai melaporkan kesulitan memperoleh koneksi untuk melakukan absensi maupun komunikasi melalui telepon seluler.

BKPSDM telah melakukan pengecekan awal dan menyampaikan informasi melalui grup internal agar pegawai tidak panik ketika mengalami kendala saat melakukan presensi.

Lusi menegaskan, berdasarkan pengecekan awal, persoalan tersebut tidak menunjukkan adanya gangguan pada server internal aplikasi. Karena itu, evaluasi diarahkan pula pada aspek jaringan komunikasi dan kemampuan sistem menghadapi penggunaan dalam jumlah besar secara bersamaan.

Kami akan melakukan koordinasi dengan provider dan Diskominfo untuk penguatan jaringan, terutama di titik-titik yang banyak digunakan untuk kegiatan atau berkumpulnya ASN,” katanya.

Menurut dia, koordinasi dengan penyedia jaringan diperlukan karena kepadatan pengguna pada satu lokasi dapat memengaruhi kualitas koneksi. Sejumlah jaringan operator seluler yang digunakan ASN juga dapat mengalami beban trafik ketika akses dilakukan secara serentak.

Persoalan ini menjadi perhatian karena BEeTRI merupakan sistem yang masih relatif baru. Aplikasi tersebut diluncurkan pada 29 Juli 2026, sehingga evaluasi dan penyempurnaan masih terus dilakukan untuk memastikan sistem mampu menghadapi pola penggunaan dalam skala besar.

Lusi mengatakan, BKPSDM bersama tim teknis akan melakukan pembaruan dan evaluasi terhadap aplikasi. Salah satu aspek yang perlu diuji adalah kemampuan sistem menangani lonjakan akses atau traffic pada waktu tertentu.

BEeTRI masih baru. Tentunya akan ada evaluasi dan pembaruan. Kami melihat bagaimana kemampuan aplikasi dan sistem ketika digunakan secara massal,” ujarnya.

Bukan Sekadar Tombol Absen

Penerapan BEeTRI sejatinya bukan hanya mengganti absensi konvensional dengan sistem digital. Sistem tersebut dirancang untuk memperkuat kedisiplinan ASN sekaligus menyediakan data kehadiran yang lebih terukur.

Karena itu, ketika gangguan teknis terjadi, diperlukan mekanisme yang mampu membedakan antara ASN yang memang tidak melakukan absensi dengan pegawai yang telah berupaya melakukan presensi tetapi terkendala jaringan atau sistem.
Aspek tersebut menjadi penting agar digitalisasi tidak berubah menjadi persoalan administratif baru bagi pegawai yang secara faktual telah berada di lokasi kerja dan menjalankan kewajibannya.

BKPSDM juga mendorong agar setiap gangguan dicatat dan dilaporkan sebagai bahan evaluasi. Laporan dari ASN yang mengalami kendala menjadi bagian dari pemetaan persoalan, baik menyangkut jaringan, aplikasi maupun pola penggunaan.

Di sisi lain, penguatan jaringan menjadi pekerjaan lintas sektor. BKPSDM akan berkoordinasi dengan Diskominfo serta provider untuk mencari solusi pada titik-titik dengan konsentrasi pengguna tinggi, terutama ketika terdapat kegiatan besar yang melibatkan banyak ASN.

Langkah tersebut diharapkan dapat mengantisipasi kejadian serupa. Bukan hanya memperbaiki aplikasi, tetapi juga memastikan infrastruktur jaringan mampu menopang kebutuhan presensi digital secara bersamaan.

Disiplin Tetap Berjalan

Di tengah persoalan teknis tersebut, BKPSDM tetap menempatkan kedisiplinan ASN sebagai tujuan utama penerapan BEeTRI. Sistem digital digunakan untuk memperkuat pengawasan kehadiran, baik bagi ASN yang bekerja dari kantor maupun dalam skema kerja yang telah ditetapkan pemerintah daerah.

Karena itu, evaluasi BEeTRI tidak berhenti pada persoalan “bisa atau tidak bisa absen”. Pemerintah perlu memastikan seluruh rantai sistem—mulai dari aplikasi, server, jaringan, perangkat pengguna hingga mekanisme pelaporan—berfungsi secara terintegrasi.
Gangguan yang terjadi menjadi catatan awal bagi Pemkot Bekasi untuk menguji ketangguhan sistem dalam kondisi nyata.
Sebab, teknologi pemerintahan tidak cukup hanya bekerja ketika pengguna sedikit. Sistem justru diuji ketika ribuan pengguna mengaksesnya pada waktu yang hampir bersamaan.

Dengan koordinasi bersama Diskominfo, penyedia jaringan dan tim teknis, BKPSDM Kota Bekasi menyiapkan evaluasi serta penguatan bertahap. Laporan mengenai gangguan yang terjadi juga akan dihimpun sebagai bahan perbaikan.

BEeTRI pun kini memasuki fase penting: bukan sekadar menjadi alat pencatat kehadiran, tetapi harus membuktikan diri sebagai sistem digital yang andal, responsif, dan mampu menjaga keseimbangan antara disiplin ASN dengan keadilan dalam pencatatan kehadiran.

(Red/JN/Wahyu)