Panen Raya Perdana di Bekasi, Partai Ummat Bidik Kesejahteraan Petani dan Harga Gabah yang Layak

KABUPATEN BEKASI —jaringannasional.comDi tengah pesatnya perkembangan kawasan industri dan permukiman, sektor pertanian tetap menjadi penopang penting ketahanan pangan dan kehidupan masyarakat. Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Panen Raya Bersama Partai Ummat di Desa Sukamulya, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi, Rabu (28/10/2026).

Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi Partai Ummat untuk menegaskan pentingnya keberpihakan terhadap petani, sekaligus mendorong gerakan politik yang tidak berhenti pada wacana, tetapi hadir melalui kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Ummat, Heikal Safar, S.H., mengatakan panen raya di Sukatani merupakan kegiatan perdana yang direncanakan menjadi awal rangkaian kegiatan serupa di berbagai daerah di Indonesia.

“Alhamdulillah, siang hari ini kita mengadakan kegiatan Panen Raya di Sukatani, Kabupaten Bekasi, bersama pengurus Partai Ummat. Alhamdulillah juga hadir di tengah kita Ustaz Haryono beserta jajaran pengurus. Insya Allah lancar kegiatannya,” tutur Heikal Safar saat diwawancarai di lokasi kegiatan.

Menurut Heikal, kegiatan tersebut direncanakan berlanjut ke berbagai wilayah dengan target menjangkau 38 provinsi di Indonesia. Langkah itu, kata dia, merupakan bagian dari upaya membangun gerakan politik yang lebih dekat dengan kebutuhan riil masyarakat.

“Ini panen raya Partai Ummat yang pertama kali dan insya Allah akan berlanjut ke seluruh daerah, tentunya di 38 provinsi. Mudah-mudahan lancar semua,” ujarnya.

Ia menegaskan, politik semestinya tidak hanya hadir dalam ruang perdebatan dan agenda kelembagaan, tetapi juga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Dalam pandangannya, pertanian merupakan sektor mendasar yang membutuhkan perhatian serius karena berkaitan langsung dengan kebutuhan hidup orang banyak.

“Supaya ada kegiatan-kegiatan yang benar-benar membumi. Kita ingin sebuah pergerakan politik itu benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat luas. Yang paling fundamental adalah di bidang pertanian karena menyangkut hajat hidup orang banyak,” tutur Heikal.

Ia juga menekankan pentingnya memberikan perhatian kepada petani sebagai pihak yang berperan langsung dalam menjaga ketersediaan pangan nasional.

Dr. Firdaus: Aspirasi Petani Perlu Ditindaklanjuti

Ketua Program, Dr. Firdaus, mengatakan kegiatan panen raya tersebut menjadi kesempatan untuk bertemu langsung dengan masyarakat petani di wilayah Sukatani sekaligus mendengarkan kebutuhan mereka.

“Alhamdulillah, pada hari ini kita bersama Pak Ketua Harian, Pak Heikal Safar, telah bertemu dengan masyarakat petani di wilayah Sukatani. Respons dari para petani sangat baik. Insya Allah, apa yang diharapkan dan menjadi aspirasi para petani bisa terlaksana demi kesejahteraan mereka,” tutur Firdaus saat diwawancarai di lokasi kegiatan, Rabu (28/10/2026).

Menurut Firdaus, salah satu aspirasi yang mengemuka berkaitan dengan penggunaan teknologi pertanian. Sebagian petani, kata dia, masih mengandalkan metode manual sehingga diperlukan pendekatan yang mampu meningkatkan efisiensi kerja tanpa mengabaikan keberadaan tenaga kerja manusia.

Ia menyebut penggunaan teknologi semi-mekanis dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjembatani kebutuhan tersebut. Dengan kombinasi pengerjaan manual dan penggunaan mesin, proses pertanian diharapkan menjadi lebih efektif sekaligus tetap melibatkan sumber daya manusia.

“Masalah teknologi pertanian, karena sebagian mereka sekarang masih manual. Aspirasi tadi, mungkin ada semi-mekanikal. Jadi, ada yang manual, ada yang dengan mesin. Kalau semua dengan mesin, mereka juga tidak mau karena sumber daya manusia tidak terpakai. ‘Nganggur kami, Pak,’ katanya,” ujar Firdaus, diselingi tawa.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa modernisasi pertanian tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan mesin untuk mempercepat pekerjaan. Penerapannya juga perlu mempertimbangkan kondisi tenaga kerja, kemampuan petani, serta kebutuhan masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor tersebut.

Dengan demikian, mekanisasi pertanian perlu diarahkan agar mampu meningkatkan produktivitas tanpa mengesampingkan aspek sosial dan keberlangsungan pekerjaan bagi masyarakat pedesaan.

Harga Pangan Terjangkau, Petani Mendapat Harga Layak

Selain menyoroti teknologi pertanian, Heikal Safar menyampaikan harapan agar kebijakan pangan mampu menjaga keseimbangan kepentingan konsumen dan produsen. Masyarakat membutuhkan harga pangan yang terjangkau, sementara petani harus memperoleh harga gabah yang layak agar hasil kerja mereka memberikan kesejahteraan.

“Harapannya, harga untuk masyarakat kita murah dan harga gabah untuk petani tidak ditekan, layak, artinya bisa sejahtera untuk semuanya,” ujarnya.

Pesan tersebut menyoroti persoalan mendasar dalam tata kelola pangan, yakni bagaimana menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat tanpa mengorbankan pendapatan petani. Keseimbangan keduanya menjadi faktor penting dalam menopang keberlanjutan produksi pertanian.

Bagi petani, keberhasilan panen tidak hanya ditentukan oleh jumlah hasil yang diperoleh, tetapi juga oleh harga jual, biaya produksi, ketersediaan tenaga kerja, serta kepastian pasar. Karena itu, hasil panen yang baik perlu diikuti tata niaga yang adil agar kerja keras petani berujung pada pendapatan yang layak.

Safari Pertanian Direncanakan Berlanjut ke Daerah Lain

Firdaus menjelaskan, kegiatan di Sukatani bukan menjadi satu-satunya lokasi pelaksanaan program. Ia menyebut rangkaian kegiatan serupa direncanakan berlanjut ke sejumlah daerah, termasuk Karawang, Sukabumi, hingga Aceh, sebagaimana disampaikan dalam wawancara tersebut.

“Ini bukan satu-satunya tempat kita laksanakan. Bukan sampai ke Karawang, sampai ke Sukabumi, beliau terus ke Aceh. Ini dalam perjalanan safari, mungkin akan berlanjut ke tempat lain,” tutur Firdaus.

Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dirangkaikan dengan makan bersama melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) bersama petani dan warga.

Rencana perluasan kegiatan itu, menurut Firdaus, menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pertemuan dengan masyarakat sekaligus mendengarkan aspirasi petani di berbagai wilayah.

Meski demikian, tindak lanjut atas aspirasi yang disampaikan petani akan menjadi hal penting untuk melihat sejauh mana kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat nyata, terutama dalam mendukung produktivitas dan kesejahteraan masyarakat pertanian.

Pertanian Bekasi di Tengah Perubahan Wilayah

Pelaksanaan panen raya di Desa Sukamulya mengingatkan bahwa Kabupaten Bekasi tidak hanya bertumpu pada sektor industri dan jasa. Lahan pertanian serta masyarakat yang menggantungkan hidup pada kegiatan bercocok tanam tetap menjadi bagian penting dari struktur ekonomi daerah.

Di tengah pertumbuhan kawasan permukiman dan industri, keberlangsungan pertanian membutuhkan perhatian terhadap produktivitas, perlindungan lahan, kepastian usaha tani, ketersediaan teknologi yang sesuai, serta kelayakan harga hasil panen.

Panen raya Partai Ummat di Sukatani menjadi ruang untuk mengangkat kembali posisi petani dalam agenda pembangunan. Namun, arti penting kegiatan tersebut pada akhirnya tidak hanya diukur dari pelaksanaan seremoni, melainkan juga dari konsistensi tindak lanjut terhadap kebutuhan dan kesejahteraan mereka.

Pada akhirnya, ketahanan pangan tidak cukup ditopang oleh ketersediaan hasil panen. Keberlanjutannya juga bergantung pada lahan pertanian yang terjaga, teknologi yang tepat guna, pasar yang memberikan kepastian, harga yang adil, serta kesejahteraan petani sebagai pelaku utama produksi pangan nasional.