Ustad Verry Koestanto:“Dari Salat Istisqa ke Dialog Santri, Bekasi Bicara Serius soal Tantangan Pergaulan Remaja

KOTA BEKASI — Persoalan pergaulan remaja di tengah derasnya arus informasi digital menjadi perhatian dalam Seminar dan Dialog Santri bertema “Cegah LGBTQ, Lindungi Masa Depanmu sebagai Generasi Tangguh & Bermartabat” yang digelar di Pondok Pesantren Assunnahriyah, Kota Bekasi, Rabu (9/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB itu menjadi ruang edukasi dan dialog bagi para santri untuk membahas tantangan pergaulan, kesehatan remaja, perilaku seksual berisiko, serta pentingnya penguatan nilai agama dan karakter dalam menghadapi perubahan sosial.
Seminar menghadirkan Ustad Fadblin NR dari Bidang Dakwah dan Komunikasi Antar-Masjid dan Sekolah (GENAP), serta dr. Reno Yovial selaku praktisi kesehatan. Diskusi dipandu H. Dbany Wahab sebagai moderator.

Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Ustad Verry Koestanto, Ketua Gerakan Nasional Anti Penyimpangan Seksual (GENAP), Ustad Wahyudi selaku pengurus PERSADA 212, serta Ustad Ismail Ibrahim, Ketua Sahabat MUI Kota Bekasi.

Dalam kesempatan tersebut, Ustad Verry menekankan bahwa upaya pembinaan generasi muda perlu dilakukan melalui edukasi yang melibatkan santri sekaligus lingkungan keluarga.

Menurut dia, derasnya informasi di media sosial membuat anak-anak dan remaja membutuhkan pendampingan yang lebih kuat agar mampu memilah informasi dan memahami konsekuensi dari setiap pilihan pergaulan.

Verry mengatakan, kegiatan semacam itu merupakan bagian dari upaya GENAP memberikan edukasi kepada anak-anak, pelajar, dan santri mengenai persoalan yang berkaitan dengan perilaku seksual serta nilai-nilai yang menjadi pegangan dalam kehidupan.

“Alhamdulillah kita mengadakan salat Istisqa untuk memohon rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diturunkan hujan yang bermanfaat.

Setelah itu kita lanjutkan dengan seminar dan dialog bersama para santri,” ujar ustad Verry.

Ia menilai antusiasme peserta dalam dialog menjadi indikasi bahwa persoalan pergaulan remaja membutuhkan ruang pembahasan yang terbuka dan terarah.

“Banyak pertanyaan yang disampaikan para santri.

Ini menunjukkan bahwa mereka membutuhkan informasi dan pendampingan, bukan hanya nasihat,” katanya.

Ustad Verry juga menyampaikan bahwa GENAP mendorong agar kegiatan serupa tidak hanya menyasar santri atau siswa.

Orang tua, menurut dia, perlu dilibatkan agar terdapat kesamaan pemahaman antara anak, sekolah atau pesantren, dan keluarga.

“Ke depan kami ingin wali santri dan wali murid juga diundang. Jangan sampai anak mendapatkan informasi dari satu sisi, sementara orang tua tidak mengetahui apa yang sedang mereka hadapi,” ujar ustad Verry.

Menurut dia, keterlibatan orang tua penting karena perkembangan teknologi telah membuat informasi mengenai seksualitas, relasi sosial, dan identitas mudah diakses oleh remaja melalui berbagai platform digital.
Karena itu, pendekatan edukasi dinilai perlu berjalan beriringan dengan pembinaan karakter, komunikasi keluarga, pendidikan agama, dan pemahaman kesehatan yang tepat.

Materi seminar mengangkat sejumlah topik, antara lain perspektif keagamaan terhadap LGBTQ, risiko perilaku seksual berisiko, penyakit menular seksual, serta penguatan iman dan karakter sebagai bagian dari pembinaan generasi muda.

Sebelum memasuki agenda utama, kegiatan diawali dengan salat Istisqa sebagai ikhtiar dan doa bersama untuk memohon turunnya hujan di tengah kondisi kemarau.

Ustad Ismail Ibrahim, S.Pd., M.Pd., dipercaya menyampaikan khotbah dalam rangkaian tersebut.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan seminar dan dialog bersama para narasumber.

Format dialog dipilih untuk membuka ruang penyampaian informasi sekaligus memberikan kesempatan kepada peserta memahami persoalan remaja dari perspektif keagamaan dan kesehatan.

Kehadiran tokoh agama, praktisi kesehatan, pendidik, dan unsur masyarakat dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pembinaan generasi muda tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja.

Di era ketika informasi mengenai seksualitas, pergaulan, dan identitas begitu mudah ditemukan melalui media sosial, tantangan pendidikan santri pun ikut berubah.

Generasi muda tidak cukup hanya dibekali nasihat. Mereka juga membutuhkan literasi, pendampingan, pemahaman kesehatan, kemampuan menyaring informasi, serta fondasi moral yang kuat.

Karena itu, pesan “generasi tangguh dan bermartabat” perlu diterjemahkan ke dalam langkah konkret melalui pendidikan, dialog, pendampingan keluarga, dan lingkungan sosial yang mendukung.
Membentengi santri bukan berarti menutup pintu dari perubahan zaman.

Sebaliknya, mereka perlu dipersiapkan agar mampu menghadapi perubahan dengan pengetahuan, iman, karakter, serta kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Dengan begitu, seminar tidak berhenti sebagai agenda seremonial.

Ia menjadi ruang untuk membangun percakapan yang lebih panjang—tentang bagaimana keluarga, pesantren, sekolah, dan masyarakat bersama-sama menjaga masa depan generasi muda.