Jaringannasional.com
OPINI
Oleh: Imam Trikarsohadi
Tragedi runtuhnya gunungan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, pada Minggu, 8 Maret 2026, yang menewaskan tujuh orang, adalah sebuah alarm keras. Peristiwa memilukan ini menjadi penanda nyata bahwa pola pengelolaan sampah Jakarta yang selama ini diterapkan dengan “cara purba” telah mencapai titik nadir dan berpotensi memicu bencana yang jauh lebih mematikan di masa depan.
Sebagaimana diketahui, TPST Bantargebang masih mengandalkan sistem open dumping—sebuah metode konvensional: kumpul, angkut, dan buang di tempat terbuka. Hasilnya? Sampah terus menggunung tanpa pengolahan yang berarti, menciptakan ancaman konstan baik bagi keselamatan jiwa manusia maupun kelestarian ekologis.
Tempat ini adalah cermin retak dari karut-marutnya manajemen sampah kita dari hulu hingga hilir. Di level hulu, nyaris tidak ada pemilahan yang signifikan maupun kebijakan progresif untuk mengurangi volume sampah. Sementara di hilir, sistem kumpul-angkut-buang terus dipertahankan selama puluhan tahun. Ini adalah kekacauan sistemik yang sangat berbahaya.
Jangan salah sangka, gunungan sampah yang kian tinggi di Bantargebang memiliki “kekuatan rahasia” untuk meruntuhkan hal-hal yang selama ini kita anggap paling penting. Ada bahaya laten yang tersembunyi di balik aromanya. Ketika tumpukan itu terus diremehkan, ia akan segera bermutasi menjadi bom waktu.
Kelak, ia akan menyerang tanpa pandang bulu: merusak estetika kota, merampas hak warga untuk menghirup udara segar melalui bau busuk yang menyengat, hingga menjadi inkubator penyakit yang menghancurkan kesehatan publik.
Oleh karena itu, transformasi tata kelola sampah yang cerdas di Bantargebang harus segera menjadi prioritas utama. Ini bukan soal mengagungkan kotoran, melainkan tentang membangun kesadaran akan keberlanjutan hidup.
Membiarkan sampah terus menumpuk adalah bentuk kesombongan manusia yang merasa bisa terus membangun tanpa pernah mau membersihkan. Padahal, bencana besar sering kali tidak datang dari serangan luar yang megah, melainkan dari pembusukan di dalam yang kita abaikan karena kita merasa hal itu terlalu “rendah” untuk diperhatikan.
Sampah adalah pengingat keras bahwa tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa kita abaikan tanpa konsekuensi. Ia kini menuntut perhatian nyata dalam ruang kebijakan; ia menuntut tempat dalam hati dan pikiran kita.
Jika kita terus meremehkannya hanya karena ia bernama “sampah”, maka bersiaplah menghadapi hari di mana sampah itu sendiri yang akan mengatur hidup kita—lewat bencana, wabah penyakit, dan kehancuran lingkungan yang tak terelakkan.
Sebab pada akhirnya, sampah bukan sekadar kotoran. Ia adalah cerminan perilaku manusia, potret kegagalan ekologis, dan material yang kehilangan fungsinya. Semua pihak kini harus memilih: menjadi bagian dari solusi, atau tetap menjadi polusi dan penikmat rente komisi di atas tumpukan penderitaan Bantargebang. *(IM).








