Coach Arsyam : MBG Tak Cukup Bagi Porsi, Sistem Keamanan Pangan Perlu Diperkuat

JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar urusan makanan yang tiba di meja makan anak sekolah.

Di balik seporsi nasi, lauk, sayur, dan buah, terdapat rantai kerja panjang yang menentukan apakah makanan tersebut benar-benar aman, bergizi, dan layak dikonsumsi.

Karena itu, penguatan MBG tidak cukup dilakukan dengan menambah jumlah penerima manfaat.

Kualitas dapur, kompetensi pengelola, keamanan pangan, kecukupan gizi, hingga mekanisme pengaduan perlu dibangun sebagai satu sistem yang saling terhubung.

Di titik inilah pembenahan MBG perlu diarahkan: bukan mundur karena persoalan, melainkan memperbaiki sistem agar persoalan yang sama tidak terus berulang.

“Kepercayaan publik tidak bisa dibangun hanya dengan promosi, melainkan dari konsistensi kualitas makanan dan penanganan masalah yang cepat di lapangan,” ujar Coach Arsyam, pemerhati keamanan pangan dan program strategis nasional.

Dapur Menjadi Titik Awal
Salah satu solusi mendasar adalah memperkuat kapasitas sumber daya manusia yang berada di balik proses produksi makanan.

Pengelola dapur, juru masak, hingga penjamah makanan perlu memiliki kompetensi yang memadai dalam pengolahan pangan skala besar.

Pelatihan dan sertifikasi profesi melalui lembaga yang berwenang, termasuk skema sertifikasi BNSP sesuai kebutuhan kompetensi, dapat menjadi bagian dari upaya membangun standar profesional pengelolaan dapur MBG.

Sebab, dapur yang sibuk melayani banyak anak tidak boleh bekerja hanya berdasarkan kebiasaan.

Ia membutuhkan prosedur yang jelas, personel yang kompeten, dan pengawasan yang konsisten.

SOP Jangan Hanya Menjadi Dokumen
Penguatan berikutnya berada pada penerapan Standard Operating Procedure (SOP) keamanan pangan.

SOP harus bekerja sejak bahan baku diterima, diperiksa, disimpan, diolah, dimasak, dikemas, hingga makanan didistribusikan kepada penerima manfaat.

Pendekatan Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) dapat digunakan sebagai kerangka pengendalian bahaya pangan, dengan menempatkan titik-titik kritis sebagai bagian penting dari pengawasan.

Dengan sistem seperti ini, pengawasan tidak hanya dilakukan setelah muncul masalah.

Risiko justru diidentifikasi dan dikendalikan sejak awal.

Infrastruktur Dapur Ikut Dibangun
Kualitas makanan juga tidak dapat dipisahkan dari kondisi fasilitas produksi.

Standardisasi tata ruang dapur, sanitasi, ketersediaan air bersih, peralatan pengolahan, penyimpanan bahan pangan, hingga pengendalian suhu perlu menjadi perhatian dalam pengembangan unit pelayanan gizi.

Prinsip keamanan pangan dan standar yang relevan dapat dijadikan rujukan sesuai karakteristik serta ketentuan yang berlaku.

Modernisasi dapur bukan semata-mata soal membuat fasilitas terlihat lebih rapi, tetapi memastikan setiap tahapan produksi dapat dikendalikan dan diawasi.

Dengan kata lain, dapur MBG perlu diperlakukan sebagai fasilitas produksi pangan yang serius—bukan sekadar tempat memasak dalam jumlah banyak.

Gizi Tetap Menjadi Jantung Program
Perbaikan sistem keamanan pangan tidak boleh membuat tujuan utama MBG terlupakan: memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat.

Menu perlu dirancang dengan memperhatikan kebutuhan gizi anak, keberagaman pangan, ketersediaan bahan baku, serta kondisi lokal.

Pemanfaatan bahan pangan dari petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM setempat juga dapat diperkuat sepanjang memenuhi persyaratan mutu dan keamanan pangan.

Dengan demikian, MBG tidak hanya menghasilkan makanan untuk anak sekolah, tetapi sekaligus dapat menciptakan efek ekonomi bagi rantai pangan lokal.

Orang Tua Jangan Hanya Menjadi Penonton
Pengawasan juga perlu diperluas hingga ke sekolah dan keluarga.

Komite sekolah serta orang tua dapat dilibatkan melalui penyampaian informasi menu, edukasi keamanan pangan, pendataan alergi atau kebutuhan khusus anak, serta kanal komunikasi yang jelas apabila ditemukan persoalan.

Pelibatan masyarakat bukan berarti memindahkan tanggung jawab pemerintah kepada orang tua.

Sebaliknya, masyarakat ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengawasan agar persoalan di lapangan dapat diketahui lebih cepat.

Aduan Harus Berujung Tindakan
Satu hal yang tidak kalah penting adalah membangun mekanisme pengaduan yang mudah digunakan dan memiliki kepastian tindak lanjut.

Saluran pengaduan berbasis WhatsApp maupun platform resmi dapat dikembangkan dengan sistem pencatatan, verifikasi, eskalasi, dan penyelesaian yang terukur.

Target respons cepat dapat menjadi indikator pelayanan.

Namun, yang lebih penting bukan sekadar seberapa cepat pesan dibalas, melainkan seberapa cepat laporan diverifikasi dan persoalan ditangani berdasarkan bukti.

Setiap laporan semestinya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem, bukan sekadar angka yang selesai setelah pengadu mendapat jawaban.

Dari Program Besar Menjadi Sistem yang Terpercaya
MBG merupakan program berskala besar dengan tantangan yang juga besar.

Karena itu, penguatannya membutuhkan pendekatan yang sistematis.

Lima agenda dapat berjalan beriringan: penguatan SDM, penerapan SOP keamanan pangan, peningkatan infrastruktur dapur, konsistensi pemenuhan gizi, serta pengaduan publik yang responsif.

Jika kelima aspek tersebut berjalan konsisten, MBG tidak hanya diukur dari berapa banyak porsi yang dibagikan setiap hari.

Ukuran keberhasilannya juga terletak pada apakah makanan itu aman, bergizi, prosesnya dapat diawasi, dan masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan persoalan.

Pada akhirnya, seporsi MBG memang terlihat sederhana ketika sampai di tangan anak.

Namun di baliknya terdapat satu pesan besar: negara sedang membangun investasi gizi untuk generasi mendatang.

Karena itu, setiap piring harus dijaga bukan hanya agar kenyang, tetapi juga agar aman, bergizi, dan menghadirkan kepercayaan.