jaringannasional.com
Tali dan Tanah
Oleh: Edi Rosadi, Anggota Group WA Family AN ’81
Mungkin sebuah bangsa adalah sebuah doa yang diucapkan di tengah padang sunyi. Kita ingat Ibrahim. Di sebuah lembah yang tak menjanjikan apa-apa – tanpa air, tanpa rimbun pohon – ia tak meminta kemegahan piramida atau tumpukan emas. Ia meminta sesuatu yang lebih mendasar, sesuatu yang dalam bahasa kitab disebut baladan aminan: sebuah negeri yang aman.
Keamanan, bagi Ibrahim, bukanlah sekadar absennya bedil atau perang. Ia adalah rasa tenang yang memungkinkan seseorang sujud tanpa was-was, dan memungkinkan buah-buahan tumbuh dari tanah yang sebelumnya dianggap mati. Ada sebuah kaitan yang ganjil namun nyata antara ketenteraman jiwa dan kemakmuran perut.
Namun, sejarah seringkali menjadi catatan tentang keretakan. Di dalam Al-Qur’an, ada isyarat tentang seutas tali – hablullah. Kita sering membayangkannya sebagai sesuatu yang turun dari langit, kokoh dan tak tergoyahkan. Namun dalam realitas bernegara, tali itu adalah kesetiaan kita pada janji bersama. Di Indonesia, kita mengenalnya dalam sila-sila yang menyatukan mereka yang berbeda akidah dalam satu rumah wathaniyah – persaudaraan sebangsa.
Retaknya Komitmen Bersama
Jika tali itu kendur, yang tersisa hanyalah tafarruq, perpecahan yang destruktif. Al-Qur’an mengingatkan kita tentang kaum yang berada “di tepi jurang neraka” – sebuah metafora tentang masyarakat yang energinya habis terbakar oleh kebencian horizontal. Sebuah bangsa akan kehilangan “anginnya” atau kekuatannya (dzahaba rihukum) ketika mereka lebih sibuk bertikai ketimbang menenun kemajuan.
Lalu ada soal perubahan. Kita seringkali terperangkap dalam fatalisme, seolah kemajuan adalah hadiah jatuh dari langit. Namun ada kalimat yang keras dalam Surah Ar-Ra’d:
Tuhan tidak mengubah nasib sebuah kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada dalam diri mereka sendiri.
Perubahan itu bermula dari dalam – dari mentalitas, dari budaya kerja, dari cara kita memandang keadilan. Kemajuan ekonomi bukan sekadar soal angka pertumbuhan, melainkan soal etika; soal bagaimana amanah diberikan kepada mereka yang ahli, bukan kepada mereka yang hanya pandai bersiasat.
Belajar dari Keruntuhan Saba
Kita juga belajar dari Saba. Sebuah negeri yang pernah disebut baldatun thayyibatun – tanah yang baik, negeri yang elok. Alamnya subur, bendungannya kokoh. Namun mereka runtuh bukan karena serangan musuh dari luar, melainkan karena mereka berpaling dari rasa syukur.
Syukur dalam politik dan ekonomi bukanlah sekadar ucapan lisan, melainkan kerja nyata yang berpihak pada keadilan. Ketika harta hanya berputar di segelintir orang, dan ketika keadilan hukum menjadi barang mewah, maka bendungan sosial sebuah bangsa akan bobol juga pada akhirnya.
Mungkin kemajuan yang sejati adalah ketika sebuah bangsa mampu menjadi ummatan wasathan – komunitas jalan tengah. Sebuah bangsa yang tidak ekstrem, yang menghargai perbedaan tanpa kehilangan identitas, dan yang memahami bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari mengimani Tuhan.
Catatan Akhir
Pada akhirnya, Indonesia yang maju dan damai bukanlah sebuah titik henti, melainkan sebuah ikhtiar yang terus-menerus. Ia adalah proses menjaga agar tali tidak putus dan tanah tetap subur oleh keadilan. Sebuah negeri yang baik, yang di dalamnya terdapat ampunan Tuhan – wa rabbun ghafur – karena penduduknya tahu cara memanusiakan manusia.
Bekasi, 29 juni 2026










