Opini Oleh: Prof. Dr. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag.
Dirda LPK Sakinah Kota Palembang
Guru Besar Ilmu Hadis UIN Raden Fatah Palembang
Jaringannasional.com
Ada yang keliru dalam memahami kerusakan moral ketika persoalan tersebut dianggap semata-mata sebagai urusan pribadi. Seolah-olah seseorang yang berbuat curang hanya merusak dirinya sendiri, orang yang mengabaikan amanah hanya mempertaruhkan kehormatannya, dan orang yang merusak lingkungan hanya berhadapan dengan persoalan alam. Padahal, kehidupan tidak pernah berdiri dalam ruang-ruang yang terpisah. Kerusakan yang bermula dari diri seseorang dapat merambat ke kehidupan orang lain, mengganggu keseimbangan alam, bahkan membebani generasi yang belum sempat menyaksikan perbuatan tersebut.
Satu kebohongan mungkin bermula dari keinginan menyelamatkan diri. Namun, ketika kebohongan menjadi kebiasaan, kepercayaan perlahan kehilangan tempatnya. Penyalahgunaan amanah mungkin dianggap sebagai keuntungan sesaat, tetapi jika dibiarkan, hak orang lain terabaikan, kesempatan hilang, dan kepercayaan publik terkikis.
Demikian pula dengan kerusakan lingkungan. Satu tindakan yang merusak alam mungkin terlihat kecil di tengah luasnya bumi. Akan tetapi, ketika tindakan serupa dilakukan berulang kali, dampaknya dapat menjelma menjadi sungai yang tercemar, udara yang memburuk, tanah yang kehilangan daya dukung, dan kehidupan yang semakin rentan.
Di sinilah moral tidak lagi cukup dibicarakan sebagai kesalehan pribadi. Moral juga merupakan persoalan kehidupan bersama.
Rasulullah saw. mengingatkan pentingnya akhlak melalui sabdanya, yang artinya, “Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. al-Bukhari, no. 3559).
Hadis ini kerap dipahami sebagai nasihat agar manusia menjadi pribadi yang santun, ramah, dan menghormati sesama. Padahal, kebaikan akhlak memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada tutur kata yang halus atau sikap yang menyenangkan. Akhlak juga tercermin dalam cara seseorang menggunakan kekuasaan, mengelola kepercayaan, memperlakukan kelompok yang lemah, mengambil keputusan, serta mempertimbangkan dampak tindakannya terhadap orang lain.
Seseorang dapat berbicara dengan sopan, tetapi keputusannya tetap berpotensi melukai banyak orang. Seseorang dapat terlihat saleh, tetapi mengabaikan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. Sebaliknya, akhlak yang baik tidak selalu ditampilkan melalui upacara atau kata-kata indah. Akhlak hadir dalam kejujuran ketika tidak diawasi, kesediaan menjaga hak orang lain ketika memiliki kesempatan untuk mengambilnya, serta keberanian menolak keuntungan yang harus dibayar dengan penderitaan banyak orang.
Dengan demikian, akhlak bukan sekadar cermin untuk melihat siapa diri kita. Akhlak juga menjadi jembatan yang menentukan bagaimana kehidupan orang lain berlangsung karena kehadiran kita.
Manusia dalam Satu Kapal Kehidupan
Rasulullah saw. memberikan gambaran kuat mengenai hubungan antara tindakan individu dan keselamatan bersama melalui sebuah perumpamaan tentang sekelompok orang yang berada di atas kapal. Sebagian menempati bagian atas, sedangkan sebagian lainnya berada di bagian bawah.
Ketika orang-orang di bagian bawah membutuhkan air, mereka harus melewati penumpang di bagian atas. Kemudian, muncul keinginan untuk melubangi bagian kapal yang mereka tempati agar dapat memperoleh air tanpa mengganggu penumpang lainnya.
Jika tindakan tersebut dibiarkan, seluruh penumpang akan binasa. Namun, jika mereka mencegahnya, semua orang dapat selamat (HR. al-Bukhari, no. 2493).
Bayangkan sebuah kapal yang sedang berlayar. Orang yang melubangi kapal mungkin merasa hanya sedang memenuhi kebutuhannya sendiri. Ia tidak bermaksud menenggelamkan seluruh penumpang. Namun, air tidak mengenal batas kepentingan pribadi. Ketika lubang itu dibiarkan terbuka, bukan hanya pelakunya yang menghadapi akibat, melainkan semua orang di dalam kapal turut terancam.
Kita hidup dalam satu kapal bernama masyarakat. Kita menghirup udara yang sama, menggunakan sumber daya yang saling berkaitan, bergantung pada kepercayaan yang dibangun bersama, dan mewariskan keadaan negeri ini kepada generasi mendatang.
Ketika seseorang menyalahgunakan amanah, orang lain dapat kehilangan haknya. Ketika kebohongan dibiarkan, kepercayaan melemah. Ketika kepentingan sesaat terus diutamakan, kepentingan bersama berisiko tersisih.
Tidak semua orang melakukan kesalahan yang sama, tetapi dampaknya dapat dirasakan bersama. Kerusakan sosial tidak selalu hanya menimpa mereka yang memulainya.
Perumpamaan kapal tersebut juga mengajarkan bahwa kepedulian bukanlah tindakan mencampuri urusan orang lain tanpa alasan. Dalam situasi tertentu, kepedulian justru merupakan tanggung jawab moral untuk mencegah kerugian bersama.
Membiarkan kerusakan bukan selalu bentuk kedewasaan atau penghormatan terhadap kebebasan. Ada saatnya diam berarti membiarkan air masuk ke kapal yang ditumpangi bersama.
Kerusakan Alam dan Tanggung Jawab Manusia
Al-Qur’an memberikan peringatan mendalam tentang hubungan antara perilaku manusia dan kerusakan lingkungan.
Allah SWT berfirman dalam QS. ar-Rum ayat 41, yang artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”
Ayat ini mengajak manusia merenungkan hubungan antara tindakannya dan kerusakan yang terjadi di bumi. Dalam konteks kehidupan kontemporer, hubungan tersebut dapat dilihat melalui pencemaran, eksploitasi sumber daya secara berlebihan, pengabaian tata kelola lingkungan, serta kebiasaan mengutamakan keuntungan sesaat tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang.
Tentu saja, tidak setiap bencana alam dapat disederhanakan sebagai hukuman atas kesalahan moral seseorang. Bencana memiliki beragam penyebab alamiah, sedangkan tingkat risikonya juga dipengaruhi oleh kondisi sosial, tata ruang, kebijakan, dan kesiapsiagaan manusia.
Namun, kita tidak dapat menutup mata terhadap kenyataan bahwa sejumlah risiko lingkungan dapat diperbesar oleh kelalaian, keserakahan, dan keputusan yang mengabaikan keselamatan bersama.
Hutan yang rusak bukan hanya kehilangan pepohonannya. Masyarakat di sekitarnya dapat kehilangan sumber penghidupan. Sungai yang tercemar bukan sekadar kehilangan kejernihannya, tetapi juga mengancam keluarga yang bergantung pada air tersebut. Udara yang tercemar tidak hanya mengurangi kenyamanan hari ini, melainkan juga dapat mengganggu kesehatan dan menambah beban kehidupan pada masa mendatang.
Karena itu, merawat alam tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan teknis semata. Tindakan tersebut juga berkaitan erat dengan akhlak: bagaimana manusia memperlakukan sesuatu yang bukan hanya menjadi miliknya, bagaimana ia menahan diri dari perbuatan yang merugikan, dan bagaimana ia mempertimbangkan hak mereka yang belum memiliki suara.
Rasulullah saw. bersabda, yang artinya, “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya” (HR. al-Bukhari, no. 2320).
Islam memandang perbuatan yang memberi kehidupan sebagai kebaikan yang bernilai ibadah. Menanam bukan sekadar kegiatan ekonomi, tetapi juga dapat menjadi amal yang manfaatnya melampaui kepentingan penanamnya. Bahkan, makhluk yang tidak dapat mengucapkan terima kasih pun termasuk dalam lingkaran manfaat yang dihargai oleh agama.
Jika menanam dapat menjadi sedekah, merawat lingkungan, menjaga sumber air, mengurangi pencemaran, dan mencegah kerusakan yang membahayakan kehidupan juga patut dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab moral manusia.
Kebaikan tidak selalu harus hadir dalam bentuk tindakan besar. Terkadang, kebaikan dimulai dari keputusan sederhana untuk tidak merusak sesuatu yang masih dibutuhkan orang lain.
Akhlak Diuji dalam Penggunaan Sumber Daya
Dalam sebuah riwayat yang kerap dikutip dalam pembahasan tentang penggunaan air, Rasulullah saw. mengingatkan agar manusia tidak berlebihan, bahkan ketika berwudu di tepi sungai yang mengalir.
Pesan moral dari riwayat tersebut terasa dekat dengan kehidupan saat ini. Air yang terus mengalir bukan berarti persediaannya tidak terbatas. Sumber daya yang tersedia bukan berarti boleh digunakan tanpa pertimbangan. Kemampuan seseorang untuk membayar sesuatu juga tidak serta-merta menghapus tanggung jawabnya untuk menggunakan sumber daya secara bijaksana.
Akhlak tidak hanya diuji ketika seseorang berhadapan dengan manusia lain. Akhlak juga diuji ketika ia menggunakan sumber daya yang tampaknya mudah diperoleh, ketika tidak ada orang yang menegur, dan ketika dampak tindakannya belum terlihat.
Mungkin tidak ada orang yang langsung dirugikan ketika seseorang menggunakan air secara berlebihan. Namun, apabila kebiasaan tersebut berkembang menjadi budaya bersama, kita akan melihat betapa jauhnya jarak antara ketersediaan sumber daya dan kebijaksanaan dalam menggunakannya.
Persoalannya bukan semata-mata berapa banyak yang digunakan, melainkan apakah manusia masih menyadari bahwa kehidupan dibangun di atas keterbatasan dan ketergantungan satu sama lain.
Kesadaran inilah yang semestinya menjadi dasar dalam memperlakukan alam. Manusia bukan satu-satunya penghuni bumi dan bukan pula pemilik mutlak seluruh sumber daya yang tersedia. Ada kehidupan lain yang bergantung pada keseimbangan alam, ada masyarakat yang membutuhkan sumber daya untuk bertahan hidup, dan ada generasi mendatang yang berhak memperoleh lingkungan yang layak.
Akhlak Hari Ini, Warisan bagi Generasi Mendatang
Ada satu hal yang kerap luput ketika membicarakan moral bangsa: masa depan tidak hanya diwariskan melalui harta, jabatan, atau bangunan. Masa depan juga diwariskan melalui kebiasaan, sistem, dan nilai-nilai yang ditinggalkan.
Anak-anak belajar tentang kejujuran bukan hanya dari nasihat, melainkan juga dari apa yang mereka saksikan setiap hari. Mereka memahami keadilan bukan hanya melalui buku pelajaran, tetapi juga dari cara orang dewasa memperlakukan sesamanya.
Begitu pula dengan tanggung jawab terhadap lingkungan. Anak-anak tidak hanya belajar dari slogan, tetapi juga dari sungai yang mereka lihat, udara yang mereka hirup, dan ruang hidup yang diwariskan kepada mereka.
Ketika ketidakjujuran terus mendapatkan pembenaran, generasi berikutnya berisiko tumbuh dengan pemahaman yang keliru tentang keberhasilan. Ketika kekerasan dianggap wajar, kepekaan terhadap penderitaan dapat terkikis. Ketika alam terus diperlakukan hanya sebagai objek untuk dieksploitasi, generasi mendatang mungkin harus menghadapi bumi yang semakin sulit menopang kehidupan.
Sebaliknya, kebiasaan baik juga dapat menyebar. Kejujuran yang dipertahankan menumbuhkan kepercayaan. Amanah yang dijaga membuka jalan bagi pelayanan yang lebih adil. Kepedulian yang dibiasakan memperkuat kehidupan masyarakat. Lingkungan yang dirawat memberi manfaat bagi orang-orang yang bahkan belum dikenal.
Dalam perspektif hadis, amal tidak selalu berhenti ketika seseorang selesai melakukan suatu tindakan. Rasulullah saw. bersabda, yang artinya, “Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim, no. 1893).
Hadis ini memberi harapan bahwa pengaruh moral juga dapat bergerak ke arah yang baik. Sebagaimana keburukan dapat menyebar melalui kebiasaan dan pembiaran, kebaikan dapat berkembang melalui keteladanan dan keberanian memulai perubahan.
Karena itu, pertanyaan penting bagi sebuah bangsa bukan hanya berapa banyak orang yang berbuat baik hari ini, melainkan juga nilai apa yang sedang ditanam agar kebaikan tersebut terus hidup pada masa mendatang.
Memperbaiki Moral, Memulihkan Kehidupan
Membicarakan moral bangsa tidak harus dimulai dengan menunjuk siapa yang paling bertanggung jawab. Kita dapat memulainya dengan pertanyaan yang lebih jujur: bagian mana dari kehidupan kita yang perlu diperbaiki?
Kita perlu belajar kembali bahwa jabatan adalah amanah, bukan hak untuk mendahulukan kepentingan pribadi. Kecerdasan tidak membenarkan manipulasi. Kesalehan tidak cukup diukur dari kesungguhan beribadah apabila pada saat yang sama hak sesama diabaikan. Keberhasilan ekonomi pun kehilangan sebagian maknanya apabila dicapai dengan merusak sumber kehidupan orang banyak.
Memperbaiki moral bukan berarti menganggap semua orang buruk. Justru sebaliknya, upaya tersebut lahir dari keyakinan bahwa manusia selalu memiliki kemungkinan untuk berubah, memperbaiki kesalahan, dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Rasulullah saw. bersabda, yang artinya, “Lindungilah diri kalian dari api neraka, meskipun dengan bersedekah separuh buah kurma” (HR. al-Bukhari, no. 1417).
Pesan ini mengingatkan bahwa kebaikan sekecil apa pun tetap memiliki arti. Kita tidak perlu menunggu menjadi orang besar untuk menjaga amanah. Tidak perlu menunggu memiliki kekuasaan untuk berlaku adil. Tidak perlu menunggu bencana datang untuk mulai merawat lingkungan. Kita juga tidak perlu menunggu seluruh masyarakat berubah untuk berhenti menjadi bagian dari kebiasaan yang merugikan.
Perubahan moral memang tidak selalu berlangsung cepat. Ada kesalahan yang memerlukan keberanian untuk diakui, kerusakan yang membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan, dan kepercayaan yang tidak dapat dibangun kembali hanya dengan kata-kata.
Namun, setiap perbaikan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tetap memiliki arti, terutama jika disertai kesediaan memperbaiki sistem yang memungkinkan kerusakan terus berulang.
Pada akhirnya, moral bangsa bukan hanya perkara bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri, tetapi juga bagaimana ia memandang kehidupan yang dipercayakan kepadanya.
Manusia tidak hidup sendirian. Ada orang lain yang menanggung akibat dari keputusannya. Ada alam yang menyediakan ruang bagi kehidupannya. Ada anak-anak yang akan menerima keadaan yang ditinggalkannya. Bahkan, ada orang-orang yang tidak pernah dikenalnya, tetapi kehidupannya dapat berubah akibat tindakan yang dianggap sepele.
Inilah saatnya memahami kembali bahwa akhlak bukan sekadar urusan sopan santun, melainkan tanggung jawab atas dampak kehadiran manusia di dunia.
Sebuah kebohongan dapat meruntuhkan kepercayaan. Kelalaian dapat membuka jalan bagi kerugian. Keserakahan dapat menghabiskan sumber kehidupan. Sebaliknya, kejujuran dapat memulihkan harapan, keberanian menegakkan amanah dapat melindungi banyak orang, dan kepedulian dapat menyelamatkan sesuatu yang kelak dibutuhkan generasi berikutnya.
Kita mungkin tidak mampu memperbaiki seluruh dunia sekaligus. Namun, kita selalu dapat memilih untuk tidak menambah kerusakannya.
Sebab, ketika akhlak manusia rusak, akibatnya dapat menjalar jauh melampaui pelakunya. Sebaliknya, ketika akhlak diperbaiki, manfaatnya dapat menjangkau kehidupan yang lebih luas daripada yang pernah dibayangkan.
Barangkali, salah satu ukuran kemuliaan sebuah bangsa bukan hanya apa yang berhasil dibangunnya hari ini, melainkan juga apa yang tetap dapat dinikmati orang lain setelah generasi ini pergi. Sebab, ketika manusia kehilangan akhlak, alam bukan hanya kehilangan penjaganya, tetapi generasi mendatang juga berisiko kehilangan masa depan yang layak.













