Oleh: Erman Achmad
(Pengamat Dinamika Sosial dan Politik Lokal Kabupaten Bekasi)
Kab Bekasi| jaringannasional.com ~ Pesta demokrasi tingkat desa di Kabupaten Bekasi tahun 2026 sedang ramai-ramainya. Dari 154 desa yang menggelar Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak, situasinya sangat beragam. Ada desa yang pendaftarnya membludak sampai lebih dari lima orang, ada juga yang sudah jelas-jelas hanya tinggal dua nama saja.
Di tengah kesibukan kampanye, ada satu rahasia umum politik desa yang sering luput dari perhatian: Bagi kepala desa petahana, memiliki banyak lawan justru membuat mereka aman. Sebaliknya, bertarung satu lawan satu (head-to-head) adalah mimpi buruk terbesar mereka.
Kenapa bisa begitu? Mari kita bedah dengan bahasa yang sederhana.
Banyak Lawan, Suara Pecah: Petahana Tetap Nyaman
Saat ini, ada 19 desa di Bekasi yang bakal calonnya melebihi lima orang. Sesuai aturan, jumlah ini harus disaring hingga maksimal lima kandidat. Bagi petahana, situasi “ramai” ini sebenarnya kabar baik.
Logikanya begini: Warga yang ingin mengganti kepala desa biasanya jumlahnya besar, mungkin mencapai 60–70 persen. Namun, jika keinginan untuk berubah itu terbagi ke empat atau lima calon berbeda, maka suara mereka akan terpecah-pecah. Masing-masing calon penantang mungkin hanya mendapat 10–15 persen suara.
Sementara itu, petahana biasanya sudah punya basis pendukung setia (loyalis) sekitar 30–35 persen berkat jaringan kerja dan bantuan selama menjabat. Dengan modal suara tetap itu, petahana bisa menang tipis, bukan karena ia paling disukai, tapi karena lawannya saling membagi “kue suara”.
Bahkan, tak jarang petahana diam-diam berharap ada banyak calon baru. Semakin ramai panggung, semakin kecil peluang lawan utama untuk mengumpulkan suara mayoritas.
Satu Lawan, Suara Menyatu: Petahana Terancam
Skenario berubah total ketika persaingan mengerucut menjadi duel satu lawan satu. Ini adalah momen paling berbahaya bagi petahana.
Ketika hanya ada satu alternatif lain, semua warga yang kecewa, bosan, atau ingin perubahan akan menyalurkan suaranya ke satu pintu yang sama. Tidak ada lagi suara yang “terbuang” atau terpecah ke calon ketiga. Semua energi ketidakpuasan terkonsolidasi menjadi satu kekuatan besar.
Dalam kondisi ini, Pilkada berubah menjadi referendum sederhana: “Apakah Anda puas dengan kinerja kepala desa saat ini, atau Anda ingin ganti?”
Jika lebih dari setengah warga merasa kurang puas, petahana hampir pasti kalah. Penantang tunggal tidak perlu repot-repot bersaing dengan kandidat lain; ia cukup fokus menunjukkan kekurangan petahana dan menawarkan harapan baru. Ketika rakyat sudah bulat tekadnya, petahana tidak punya tempat untuk bersembunyi.
Apa yang Akan Terjadi di 19 Desa Itu?
Kini, mata semua pihak tertuju pada proses penyaringan di 19 desa yang masih memiliki banyak calon. Hasil penyaringan ini akan menentukan nasib petahana:
- Jika tersisa 4–5 calon: Petahana bisa tersenyum lega. Suara oposisi akan tetap terpecah, dan peluang mereka untuk bertahan hidup sangat besar.
- Jika tersisa 2 calon (Head-to-Head): Petahana harus waspada. Ini adalah ujian sesungguhnya. Mereka akan dinilai langsung berdasarkan kinerja nyata, bukan sekadar popularitas sesaat.
Pelajaran Penting bagi Rakyat
Pilkades Bekasi 2026 mengajarkan kita satu hal penting: Banyak lawan bukanlah ancaman bagi petahana, melainkan pelindung mereka. Ancaman sesungguhnya bagi petahana adalah ketika rakyat yang ingin perubahan bisa bersatu memilih satu figur.
Bagi warga yang menginginkan pergantian kepemimpinan, kuncinya ada pada persatuan. Jangan biarkan suara Anda terpecah belah ke banyak calon. Satukan dukungan pada satu figur yang paling potensial.
Pertanyaannya sekarang: Akankah rakyat menyadari strategi ini sebelum terlambat? Atau akankah petahana kembali lolos karena suara kita tercerai-berai? Jawabannya akan kita tentukan bersama di bilik suara nanti. Tetapi perlu diingat bahwa beda pilihan jangan sampai merenggangkan persaudaraan.(03.09.26)
Red/JN. Erman












