Jangan Habiskan Energi untuk Mengeluh: Belajar Menerima, Mengendalikan Diri, dan Bertumbuh

Opini Oleh: Dr. Mirna Ari Mulyani Munir, M.Pd.

JARINGANNASIONAL. COM

Ada satu pesan sederhana yang menyimpan makna mendalam tentang kehidupan: jangan habiskan energi untuk mengeluh tentang keadaan yang tidak kamu sukai.

Kalimat ini bukan ajakan untuk memendam kesedihan, berpura-pura kuat, atau menerima semua perlakuan tanpa perlawanan. Sebaliknya, pesan ini mengajak kita untuk memahami bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Ada keadaan yang dapat kita ubah, ada yang hanya dapat kita pengaruhi, dan ada pula yang harus kita terima karena berada di luar kendali kita.

Dalam perjalanan hidup, setiap orang pernah menghadapi kekecewaan, kehilangan, konflik, kegagalan, maupun perlakuan yang tidak sesuai dengan harapan. Pada saat seperti itu, mengeluh mungkin menjadi respons spontan untuk mengungkapkan perasaan. Namun, ketika keluhan terus berulang tanpa disertai refleksi dan tindakan, kita berisiko menghabiskan energi, waktu, serta perhatian untuk sesuatu yang tidak membawa perubahan berarti.

Lantas, bagaimana seharusnya kita menyikapi keadaan yang tidak kita sukai?

Mengendalikan Diri di Tengah Keadaan yang Tidak Menentu

Dalam perspektif psikologi, pengendalian diri merupakan kemampuan seseorang untuk mengelola pikiran, emosi, dan perilaku ketika menghadapi berbagai situasi. Kita memang tidak selalu dapat mengendalikan perkataan orang lain, keputusan orang lain, atau perubahan keadaan. Akan tetapi, kita dapat belajar menentukan bagaimana meresponsnya.

Misalnya, ketika seseorang meremehkan kemampuan kita, rasa kecewa dan marah merupakan reaksi yang manusiawi. Namun, kita memiliki pilihan: membalas dengan kemarahan, menyimpan kebencian berkepanjangan, atau menjadikan pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri dan mengambil tindakan yang lebih bijaksana.

Kedewasaan emosional bukan berarti tidak pernah marah atau sedih. Kedewasaan terlihat ketika seseorang mampu mengenali perasaannya, memahami penyebabnya, dan memilih respons yang tidak merugikan dirinya maupun orang lain.

Dengan demikian, kita perlu membedakan antara peristiwa yang terjadi dan penilaian yang kita berikan terhadap peristiwa tersebut. Tidak semua hal yang kita pikirkan merupakan fakta. Terkadang, kita merasa diabaikan padahal belum mengetahui alasan sebenarnya. Ada kalanya kita menganggap kegagalan sebagai akhir perjalanan, padahal kegagalan dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memperbaiki langkah berikutnya.

Belajar mengendalikan diri berarti memberikan ruang bagi pikiran yang jernih sebelum mengambil keputusan.

Mengelola Energi Kehidupan dengan Bijaksana

Setiap manusia memiliki energi yang terbatas. Energi itu digunakan untuk bekerja, belajar, membangun hubungan, menyelesaikan masalah, dan merawat kesehatan fisik maupun psikologis.

Ketika sebagian besar energi kita habis untuk mengulang kekecewaan, membandingkan diri dengan orang lain, atau memikirkan hal-hal yang tidak dapat dikendalikan, ruang untuk bertumbuh menjadi semakin sempit.

Dalam psikologi, perenungan berulang yang tidak menghasilkan pemahaman atau penyelesaian baru dikenal sebagai rumination. Kebiasaan ini dapat memperpanjang tekanan emosional dan menyulitkan seseorang melihat alternatif penyelesaian.

Namun, bukan berarti kita tidak boleh bercerita atau mengungkapkan keluhan. Berbagi pengalaman dengan orang tepercaya, meminta bantuan, dan menyampaikan ketidakadilan merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan psikologis. Yang perlu dihindari adalah terjebak dalam keluhan tanpa arah, tanpa refleksi, dan tanpa langkah yang konstruktif.

Karena itu, ketika menghadapi persoalan, cobalah bertanya kepada diri sendiri: Apa sebenarnya masalah yang sedang saya hadapi? Bagian mana yang masih dapat saya perbaiki? Langkah apa yang paling mungkin saya lakukan saat ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu mengalihkan perhatian dari sekadar menyalahkan keadaan menuju pencarian solusi.

Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan semua persoalan dalam satu hari. Namun, satu tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih bermanfaat daripada berjam-jam mengulang keluhan yang sama.

Menerima Kenyataan Bukan Berarti Menyerah

Salah satu pelajaran penting dalam kehidupan adalah memahami perbedaan antara penerimaan dan penyerahan diri.

Menerima berarti mengakui kenyataan sebagaimana adanya. Menyerah berarti menghentikan usaha, meskipun masih ada pilihan yang dapat dilakukan. Sementara itu, penerimaan yang sehat menjadi landasan untuk menentukan tindakan yang lebih realistis.

Ketika mengalami kegagalan, misalnya, kita dapat mengakui bahwa hasil yang diperoleh belum sesuai dengan harapan. Pengakuan tersebut tidak menjadikan kita manusia yang lemah. Justru, dari sana kita dapat mengevaluasi strategi, memperbaiki keterampilan, dan mempersiapkan diri menghadapi kesempatan berikutnya.

Demikian pula ketika menghadapi hubungan yang tidak sehat. Menerima kenyataan bukan berarti membiarkan diri terus-menerus disakiti. Penerimaan dapat menjadi langkah awal untuk menetapkan batas pribadi, mencari dukungan, dan mengambil keputusan yang melindungi martabat serta keselamatan diri.

Dalam pendekatan psikologis yang menekankan penerimaan dan tindakan berdasarkan nilai, seseorang diajak untuk tidak selalu melawan atau menyangkal perasaan yang muncul. Ia belajar mengakui perasaan tersebut tanpa harus membiarkannya menentukan seluruh perilaku.

Kita tidak harus menunggu semua masalah selesai atau seluruh emosi menjadi tenang untuk mulai mengambil langkah yang benar.

Pikiran, Perasaan, dan Perilaku Saling Berkaitan

Cara seseorang memandang suatu peristiwa dapat memengaruhi perasaan dan tindakannya. Oleh karena itu, kemampuan mengevaluasi pikiran menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan psikologis.

Bayangkan seseorang yang belum menerima balasan pesan dari orang yang diharapkannya. Ia mungkin langsung berpikir bahwa dirinya tidak dihargai. Pikiran tersebut dapat memunculkan kecemasan, kekecewaan, bahkan kemarahan.

Padahal, ada kemungkinan lain yang belum diketahui. Orang tersebut mungkin sedang sibuk, belum sempat membaca pesan, atau membutuhkan waktu untuk merespons.

Berpikir realistis bukan berarti selalu mencari alasan untuk membenarkan perilaku orang lain. Berpikir realistis berarti tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu sebelum memperoleh informasi yang memadai.

Apabila pola pengabaian atau perlakuan tidak sehat benar-benar terjadi secara berulang, kita tetap perlu mengakui kenyataan tersebut dan menentukan batas yang tepat.

Dengan demikian, tujuan mengubah pola pikir bukanlah memaksa diri untuk selalu positif, melainkan belajar berpikir secara lebih objektif, proporsional, dan bertanggung jawab.

Kita tidak selalu dapat memilih peristiwa yang datang, tetapi kita dapat melatih kemampuan untuk menilai keadaan secara lebih jernih dan menentukan respons yang sesuai.

Tanggung Jawab terhadap Diri Sendiri

Ada satu hal yang perlu diingat: bertanggung jawab terhadap diri sendiri bukan berarti menyalahkan diri atas semua kesulitan yang terjadi.

Tidak semua masalah muncul karena kesalahan kita. Ada persoalan yang berasal dari keputusan orang lain, ketidakadilan, perubahan lingkungan, atau keadaan yang memang tidak dapat kita kendalikan.

Tanggung jawab terhadap diri sendiri berarti menyadari apa yang masih dapat kita lakukan setelah menghadapi keadaan tersebut.

Kita dapat memilih untuk memperbaiki kesalahan apabila memang melakukan kekeliruan. Kita dapat meminta pertolongan ketika merasa tidak sanggup menghadapi masalah sendirian. Kita juga dapat mengambil jarak dari lingkungan yang terus-menerus merugikan kesehatan psikologis dan keselamatan diri.

Kekuatan tidak selalu ditunjukkan dengan kemampuan bertahan dalam semua keadaan. Terkadang, kekuatan justru terlihat ketika seseorang berani mengakui keterbatasan, meminta bantuan, beristirahat, dan mengubah arah kehidupannya.

Kita tidak harus memenangkan setiap perdebatan, memperoleh pengakuan dari semua orang, atau membuktikan harga diri kepada mereka yang meragukan kemampuan kita.

Yang lebih penting adalah memastikan bahwa tindakan kita tetap selaras dengan nilai, tujuan, dan tanggung jawab yang kita yakini.

Kesabaran, Ikhtiar, dan Tawakal dalam Perspektif Islam

Dalam kehidupan seorang Muslim, pesan untuk tidak menghabiskan energi dalam keluhan dapat direnungkan melalui nilai kesabaran, ikhtiar, muhasabah, dan tawakal.

Sabar bukan berarti tidak boleh bersedih. Sabar merupakan kemampuan menjaga diri agar tetap berusaha melakukan hal yang benar di tengah kesulitan. Seseorang dapat menangis, merasa kecewa, dan membutuhkan dukungan, tanpa kehilangan kesempatan untuk bangkit kembali.

Ikhtiar mengajarkan kita untuk melakukan usaha yang dapat dikerjakan. Muhasabah mengajak kita mengevaluasi diri dengan jujur, sedangkan tawakal mengajarkan penyerahan hasil kepada Allah setelah berusaha sebaik mungkin.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11 yang menjelaskan bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Ayat ini dapat menjadi pengingat tentang pentingnya usaha dan perbaikan diri. Namun, kita juga perlu memahami bahwa setiap kesulitan tidak serta-merta merupakan akibat kesalahan orang yang mengalaminya.

Dalam menghadapi persoalan, seorang Muslim dapat berusaha menjaga hati tanpa mengabaikan akal, berbaik sangka tanpa mengabaikan fakta, serta bersabar tanpa membiarkan kezaliman berlangsung begitu saja.

Sikap tersebut membantu kita menjalani kehidupan dengan keseimbangan antara keteguhan spiritual, kejernihan berpikir, dan tindakan nyata.

Dari Pengendalian Diri Menuju Kesiapan Kerja Mahasiswa BPI

Pesan ini juga relevan dalam dunia pendidikan tinggi, khususnya dalam membangun kesiapan kerja mahasiswa Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Raden Fatah Palembang.

Kesiapan kerja bukan hanya berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan keterampilan teknis. Kesiapan kerja juga mencakup kemampuan mengelola emosi, beradaptasi dengan perubahan, berkomunikasi secara efektif, menyelesaikan konflik, serta menjalankan tanggung jawab secara profesional.

Mahasiswa yang menghadapi kesulitan selama praktik lapangan, misalnya, perlu belajar mengevaluasi pengalaman, menerima umpan balik, memperbaiki pendekatan komunikasi, dan mencari solusi bersama pembimbing.

Dalam konteks BPI, kemampuan tersebut memiliki arti penting karena lulusan dipersiapkan untuk menjalankan peran yang berkaitan dengan bimbingan, penyuluhan, pendampingan, dakwah, pelayanan, dan pemberdayaan masyarakat.

Mereka perlu memahami bahwa melayani masyarakat bukan hanya soal menyampaikan pengetahuan, tetapi juga tentang mendengarkan dengan empati, menghargai martabat manusia, menjaga amanah, dan bertindak berdasarkan etika profesional.

Nilai-nilai tersebut dapat dikembangkan melalui tahapan BPI READY:

Ready to Learn berarti siap mengenali diri, belajar dari pengalaman, dan menerima masukan.

Ready to Work berarti siap membangun disiplin, kompetensi profesional, kemampuan adaptasi, dan keterampilan menyelesaikan masalah.

Ready to Serve berarti siap melayani dengan empati, amanah, tanggung jawab, dan nilai-nilai Islam.

Ready to Create Impact berarti siap mengubah ilmu dan pengalaman menjadi kontribusi nyata bagi individu, keluarga, dan masyarakat.

Dengan demikian, pengendalian diri bukan sekadar kemampuan pribadi. Pengendalian diri merupakan salah satu fondasi untuk membangun kesiapan profesional dan kualitas pelayanan sosial.

Mahasiswa BPI diharapkan tidak hanya siap memperoleh pekerjaan, tetapi juga siap bekerja secara profesional, melayani dengan amanah, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Penutup: Pilih Perjuangan yang Bermakna

Pada akhirnya, kehidupan bukan tentang membuat semua orang menyukai kita atau memastikan setiap keadaan berjalan sesuai keinginan. Kehidupan adalah proses belajar memahami diri, menerima kenyataan, memperbaiki tindakan, dan menentukan arah yang bermakna.

Jangan menyangkal perasaan, tetapi jangan pula membiarkan perasaan menguasai seluruh keputusan. Jangan terus-menerus menyalahkan keadaan, tetapi pahami apa yang masih dapat diperbaiki. Jangan memaksakan diri mengendalikan segala sesuatu, tetapi gunakan kemampuan untuk mengambil langkah yang tepat.

Kita juga perlu memahami bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan segera. Ada masalah yang membutuhkan waktu, ada luka yang memerlukan proses pemulihan, dan ada keadaan yang mengharuskan kita meminta bantuan orang lain.

Menghemat energi bukan berarti berhenti berjuang. Menghemat energi berarti memilih perjuangan yang tepat, dengan cara yang sehat, untuk tujuan yang bermakna.

Sebab, hidup bukan sekadar tentang bertahan menghadapi keadaan, melainkan juga tentang bertumbuh melalui pengalaman, menjaga martabat diri, menjalankan amanah, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Peka tanpa berprasangka, waspada tanpa ketakutan, dan tegas tanpa kehilangan kebijaksanaan.

Itulah salah satu bentuk kedewasaan: mampu menerima apa yang tidak dapat diubah, memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, dan tetap melangkah dengan hati yang terjaga serta pikiran yang jernih.

Red/JN*Opini